<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>dongengperadaban</title>
	<atom:link href="http://dongengperadaban.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dongengperadaban.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Dec 2009 20:49:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dongengperadaban.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>dongengperadaban</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dongengperadaban.wordpress.com/osd.xml" title="dongengperadaban" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dongengperadaban.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ASESORIS MASJID</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/17/asesoris-masjid/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/17/asesoris-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 20:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[    Suatu malam, saya lupa hari dan tanggalnya, sekitar tahun 2007,  saat baru sampai rumah pulang kerja, seorang kawan sekomplek di Pondok Pucung, dia adalah salah seorang pengurus dan anggauta jamaah Masjid al-Muhajirin, dengan tergopoh-gopoh menemui dan meminta saya untuk segera datang ke masjid karena ada perdebatan panas yang justru menjurus kepada kemarahan pihak-pihak yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=29&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>    Suatu malam, saya lupa hari dan tanggalnya, sekitar tahun 2007,  saat baru sampai rumah pulang kerja, seorang kawan sekomplek di Pondok Pucung, dia adalah salah seorang pengurus dan anggauta jamaah Masjid al-Muhajirin, dengan tergopoh-gopoh menemui dan meminta saya untuk segera datang ke masjid karena ada perdebatan panas yang justru menjurus kepada kemarahan pihak-pihak yang berdebat. &#8220;Pak Noto, tolong segeralah datang ke masjid. Saya hawatir nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.&#8221; Saya agak kaget juga tentunya. &#8220;Ada persoalan apa pak.&#8221; Kawan saya mengatakan dengan nada cemas &#8221;wah pak yang penting bapak segeralah ke masjid, ini rawan sakali.&#8221; Saya tak habis pikir. Betulkah ada peristiwa genting di masjid tempat kami berjamaah sehingga sang kawan ini memaksa saya harus segera ke masjid? &#8220;Iya,pak. Tenanglah. Ada apa sebetulnya di masjid kita?&#8221; Saya mencoba menenangkan kawan saya ini meskipun saya sendiri  sebetulnya saat itu butuh ketenangan, istirahat karena memang lelah. Sang kawan menjawab ringkas meskipun tetap   tak mampu menyembunyikan kegundahannya. &#8220;Soal kaligrafi pak.&#8221; Saya mulai menangkap maksudnya. Terjadi perdebatan tentang boleh tidaknya menulis kaligrafi di masjid, sebagaimana banyak dijumpai di masjid manapun. Ada yang menolak dan ada yang membolehkan. Problem &#8220;khilafiyah.&#8221; Langsung saya menyampaikan kesanggupan saya &#8220;baik pak, insya Allah saya segera ke masjid. Tapi saya harus mandi dan makan malam dulu biar saya lebih fresh.&#8221; Sang kawan menegaskan &#8220;tapi pak Noto betul datang ya supaya persoalan ini bisa selesai.&#8221; Kembali saya sanggupi setelah mandi dan makan. Sang kawanpun segera menuju masjid, setengah berlari.</p>
<p>      Benakku mulai mengatakan&#8221;umat masih saja terjebak dalam pertentangan tentang satu persoalan yang menurut hemat saya tidak fundamental dalam ajaran Islam&#8221; yaitu kaligrafi di dinding masjid. Mereka begitu sibuk menghabiskan enerji, mengorbankan semangat kebersamaan umat, mengorbankan perasaan dan moral untuk sesuatu yang sangat, sangat sederhana menurut hemat saya, kaligrafi di dinding masjid. Saya keluhkan hal ini kepada istri: &#8220;heran ayah. Mau-maunya temen-temen ini habiskan tenaga, pikiran, spirit, waktu memperdebatkan asesoris masjid. Lelah rasanya ayah ikut nimbrung urusan seperti ini. Banyak orang sudah memulai menyibukkan diri untuk memikirkan bagaimana mengentaskan kemiskinan umat, kita malah masih ribut soal kaligrafi atas nama keluhuran syariah Islam. Malas rasanya pergi kemasjid.&#8221; Untung istri berhasil meyakinkan saya untuk memenuhi permintaan datang ke masjid dan berbicara dengan teman-teman yang bertikai soal kaligrafi; melerai pertikaian. Ini  pekerjaan mulia juga melerai pertikaian itu. &#8220;Betul juga&#8221; kata saya dalam hati.Karena itu, setelah selesai makan malam saya segera menuju masjid.</p>
<p>       Perdebatan kusir dan emosional masih terjadi dan saya ikuti. Semangat sekali sahabat-sahabat saya ber &#8220;engkel-engkelan&#8221; sepertinya sedang memperjuangkan Islam atau memperjuangkan sesuatu yang memang benar-benar maha penting. Saya ikuti terus perdebatan itu. Temen-temen yang bertikai  mulai merasa heran melihat saya diam tidak berkomentar sedikitpun. Tapi kemudian mereka berhenti sendiri berdebat, karena mungkin memperhatikan saya yang  tetap diam tak bereaksi. Saat itulah saya mulai berperan: &#8220;jika bapak-bapak benar-benar sudah lelah untuk menyampaikan argumennya masing-masing, sekarang giliran saya. Tapi tolong ikuti dan dengarkan penjelasan-penjelasan saya.&#8221; Untungnya temen-temen mau mengikuti permintaan saya. Amanlah saya karena dengan leluasa tanpa hambatan saya bisa menjelaskan soal kaligrafi di dinding masjid tanpa beban apapun</p>
<p>       Bagi temen-temen yang dengan keras menolak kaligrafi di masjid itu bid&#8217;ah karena  Rasul Muhammad tidak melakukan hal itu, saya katakan: &#8220;kalau itu argumenya, maka bentuk masjid al-Muhajirin kita ini sebetulnya tidak mengikuti masjid yang dibangun Rasul. Masjid kita ini ada gentingnya, tegelnya, cat temboknya, ada sajadahnya, ada microphone, ada speakernya,  dan sebagainya yang bisa jadi yang membuatnyapun belum tentu beragama Islam. Jadi, masjid yang kita pakai ini bahan-bahannya belum tentu yang membuat orang Islam. Mungkin malah orang Kafir. Kalau begitu, tidak Islamilah kita semua. &#8220;jadi, apakah masjid yang kita bangun haruslah seperti atau mengikuti masjid yang pertama kali dibangun di era Rasulullah?</p>
<p>      Menurut saya, tidak.  Hukumnya Mubah membangun masjid dengan pola apa saja yang dikehendaki. Yang sangat penting adalah fungsinya. Secara arsitektural, kita memiliki kebebasan untuk membangun masjid dengan model seperti apapun. Ini soal kecenderungan, soal pilihan yang bisa saja terkait dengan  culture. Karena itu, umat bebas berijtihad secara arsitektural. Kebebasan inilah yang, menurut hemat saya, justru akan membantu memperkaya mozaik kebudayaan dan peradaban umat. Salah satu elemen penting adalah karya seni tulis Arab yaitu &#8220;Khot&#8221; atau Kaligrafi. Aplikasinya, di Masjid. Jaman dulu (sebelum kerasulan Muhammad) ada tradisi atau festival yaitu baca puisi dan menempelkan puisi-puisi yang terpilih di dinding Ka&#8217;bah. Sejak islam,  tradisi ini berubah atau mengalami perkembangan penting menuurut hemat saya. Yaitu memilih ayat-ayat tertentu (bukan karya sastra atau puisi) untuk dituliskan kembali secara bagus dan indah di dinding masjid, termasuk dinding masjid al-Muhajirin. Mubah saja hukumnya. Bolah boleh saja bikin kaligrafi di masjid. Mau bikin boleh, mau tidak bikin juga boleh. Dan tentu saja bukan kewajiban (Wajib hukumnya) membuat kaligrafi di dinding masjid. Dan yang juga pasti, jangan diharam-haramkan menulis kaligrafi di dinding masjid.</p>
<p>      Sekali lagi, hukumnya Mubah. Tapi, meskipun Mubah, tetap saja ekspektasinya ialah agar kaligrafi ini bisa membantu jamaah untuk  senantiasa membaca dan memahami kandungan al-Qur&#8217;an dan syukur-syukur diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian supaya memiliki makan relijius, spiritual dan sosial maka Kaligrafi perlu dibaca atau dipahami sebagai salah satu instrumen saja dari keberagamaan seseorang atau sekelompok masarakat. Akan tetapi, kalau pengurus masjid tidak punya biaya cukup untuk menulis kaligrafi sekeliling dinding masjid, ndak perlu juga kaligrafi dibuat.Tidsk perlu memaksakan diri. Jangan berpikir kalau dimasjid tidak ada kaligrafi maka umat akan berdosa. Tidak. Yang berdosa itu ialah membuat masjid, tapi tidak solat. Atau masjid digunakan untuk keperluan yang tidak tidak&#8230;&#8230;wallahu a&#8217;lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=29&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/17/asesoris-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bumi Yang Hijau dan Menyehatkan</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/13/bumi-yang-hijau-dan-menyehatkan/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/13/bumi-yang-hijau-dan-menyehatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 11:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Di halaman rumah tempat tinggal kami sekeluarga, perumahan pondok pucung, ada pohon rambutan. Di bawah pohon itu saya bikin kolam ikan hias yang dikelilingi tanaman bunga dan tanaman hias lainnya. Tak besar, kecil saja. Saya menyukai suasana itu. Kalau siang hari waktu libur, sering duduk-duduk di bawah pohon rambutan yng cukup rindang sambil memperhatikan ikan-ikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=26&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di halaman rumah tempat tinggal kami sekeluarga, perumahan pondok pucung, ada pohon rambutan. Di bawah pohon itu saya bikin kolam ikan hias yang dikelilingi tanaman bunga dan tanaman hias lainnya. Tak besar, kecil saja. Saya menyukai suasana itu. Kalau siang hari waktu libur, sering duduk-duduk di bawah pohon rambutan yng cukup rindang sambil memperhatikan ikan-ikan hias, dua kura-kura berenang bolak-balik ke sana kemari. Sesekali kedua kaki saya masukkan ke kolam dan ikan-ikan yang lucu-lucu itu mengerumuni dua kaki saya dan menggigit-gigit. Mereka pikir, ini makanan baru. Tidak sakit tentunya tapi geli&#8230;saya sering tertawa kegelian.</p>
<p>      Saya betul-betul merawat hampir setiap hari ikan,kolam,taman kecil dan pohon rambutan. Aku sirami mereka semua. Dahan-dahan rambutan yang bergoyang-goyang saat aku siram, sepertinya sedang tersenyum, senang sekali. Semakin bergoyang,semakin lama aku menyirami mereka. Begitu juga ikan dan tanaman-tanaman yang ada di halaman rumah kami. &#8220;senang sekali mereka, subhanallah&#8230;&#8221; Sepertinya, saya tidak akan berhenti bercengkerama dengan makhluq-makhluq Allah di halaman rumah kalau saja istri saya tidak mengingatkan untuk berhenti &#8220;sudah ayah..&#8221;</p>
<p>     Terus terang makhluq-makhluq itu telah memberikan banyak kepada kita. Pohon rambutan, disamping menyejukkan karena rimbun, juga buahnya yang hampir setiap tahun kamipetik. Rasanya hampir semua tetangga di RT kami tinggal kebagian rambutan kami. Enak, manis. Saya tahu juga, anak-anak kampung yang ada di sekiktar perumahan kami, sering manjat atau memetik rambutan tanpa ijin. Sesekali mereka teriak bersama-sama: &#8220;buu&#8230;minta rambutannya doong&#8230;&#8221; Pendeknya, pohon ini menyenangkan banyak orang. Begitu juga ikan dan tanaman-tanaman hias yangmayoritas berwarna hijqau. Memberikan rasa damai, tentram, nikmat, sejuk, bahagia, ceria. Allah telah menakdirkan itu semua. Saya sangat merasakan nikmatnya bersama ikan,kolam, pohon, buah dan tanaman hias itu.</p>
<p>      Karena itu, saya sering sedih dan gundah setiap saat, di mana saja, melihat lahan kering, hutan dibakar, pepohonan persawahan atau perkebunan dihabisi atas nama &#8220;pembangunan&#8221;, atas nama &#8220;modernisasi&#8221; atas nama &#8220;kemajuan&#8221; atas nama &#8220;menimba rejeki lain.&#8221; Saya tak habis pikir, betapa teganya mereka yang menjual lahan hijau rimbun penuh buah dan aroma bunga, atau sawah, ladang kepada orang-orang yang gila uang. Semuanya disulap kering menjadi gedung,mall, menjadi pabrik dan macama-macam. Cacing-cacing tak lagi hidup nyaman dan pastilah mati karena tempat mereka sudah menjadi beton. Ikan-ikan di empangpun tak lagi ada karena empangnyapun sudah menjadi perumahan, real estate.</p>
<p>       Krisis lingkungan sudah lama terjadi,  climate change dan global warming tak bisa dihindari. Sudah banyak seminar, diskusi, konferensi tentang memburuknya bumi kita ini. Di kampus saya, UIN Jakarta, pernah dilakukan pembahasan tentang &#8220;Fiqih Biah&#8221; atau Fiqih lingkungan, kerja sama UIN dengan KLH. Hadir sejumlah pembicara mewakili beberapa negara muslim maupun non muslim. Saya sendiri pada waktu itu menjadi penanggung jawab event itu. Setelah itu beberapa kali pertemuan, diskusi serius tentang lingkungan yang melibatkan banyak kalangan ahli. Sebagai tindak lanjut, kita (UIN) ingin kembangkan kebijakan serius tentang Kampus Berwawasan Lingkungan. Bagi saya, ide ini sangat penting dan kampus harus menjadi &#8220;teladan&#8221; masarakat menjaga kelestarian lingkungan. Langklah kecil yang sudah dilakukan ialah penanaman pohon langka di kampus yang dilakukan oleh tamu-tamu penting UIN. Sudah lumayan meskipun tentu sangat belum cukup. Sejak jebolnya Situ Gintung, krisis air mulai terasa. Di  ciputat dan sekitarnya sudah ada beberapa Situ yang hilang atau dihilangkan/ditimbun. Yang tersisapun membutuhkan perawatan sangat serius. Dan kampus perlu andil. Perbincangan dengan pemerintah lokal (Walikota Tangerang Selatan) sudah dimulai. Perlu bahu membahu banyak pihak untuk menyelamatkan lingkungan, kemanusiaan dan peradaban.</p>
<p>       Islam adalah ajaran yang sangat luhur antara lain mengingatkan kepada kita semua agar menjaga kehidupan bumi ini, jangan melakukan kerusakan (al-Fasad). Perlulah kaidah-kaidah atau ajaran Islam ini benar-banar diterjemahkan secara kongkrit. Kita ini adalah pemegang amanat Allah karena itu jangan khianati amanat ini supaya bumi kita ini tetap sehat dan menyehatkan&#8230;..gemah ripah loh jinawi, baldatun thoyibatun wa robbun ghafur&#8230;Saya setiap saat merindukan pohon-pohon, dedaunan, tanaman, air,ikan dan semua makhluq Allah hidup berdampingan penuh senyum, damai, saling menjaga kehidupan&#8230;&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=26&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/13/bumi-yang-hijau-dan-menyehatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjelaskan Islam</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/09/menjelaskan-islam/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/09/menjelaskan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 05:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat, sekitar tahun 2005, setelah menunaikan sholat Jamaah Maghrib di Masjid al-Muhajirin di perumahan tempat saya tinggal, saya duduk-duduk bersama salah saorang pengurus masjid memperhatikan pengajian yang diikuti oleh anak-anak usia SD. Sebetulnya bukan pengajian, akan tetapi kegiatan &#8220;Ta&#8217;lim&#8221; (belajar agama) yang dipandu oleh seorang guru laki-laki, masih sangat muda usia sekitar 20 tahunanlah.  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=24&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu saat, sekitar tahun 2005, setelah menunaikan sholat Jamaah Maghrib di Masjid al-Muhajirin di perumahan tempat saya tinggal, saya duduk-duduk bersama salah saorang pengurus masjid memperhatikan pengajian yang diikuti oleh anak-anak usia SD. Sebetulnya bukan pengajian, akan tetapi kegiatan &#8220;Ta&#8217;lim&#8221; (belajar agama) yang dipandu oleh seorang guru laki-laki, masih sangat muda usia sekitar 20 tahunanlah.  Pesertanya, anak-anak usia SD, cukup banyak. Ramai, hirup pikuk. Ada yang berlari-larian, kejar-kejaran ke sana ke mari; ada yang berguling-guling di atas karpet masjid; ada juga yang duduk serius menghafal doa dan surat-surat pendek. Sang guru muda sesekali mengeluarkan suara keras untuk menandingi teriakan anak-anak dan bahkan terpancing kesabarannya karena tingkah anak-anak. Dia jewer anak-anak itu. &#8220;Aduh kak, sakit&#8230;.gak lagi deh&#8221; kata salah seorang anak yang dijewer. &#8220;Hayo semuanya, duduk melingkar lagi, kita baca surat-surat pendek bersama-sama&#8221; ajak sang guru. Anak-anak itupun mengikuti perintah guru muda mereka dan mulai membaca surat-surat pendek secara bersama-sama. Bersemangat sekali mereka.</p>
<p>       Selesai menuntun anak-anak membaca surat-surat pendek,  sang guru muda kemudian menjelaskan soal Fiqih. &#8220;Adik-adik, sekarang kita belajar Fiqih. Kita mulai dengan Toharoh (bersuci).&#8221; Saya ikuti dan perhatikan terus apa yang dijelaskan oleh guru muda yang sangat bersemangat ini. Ia mulai menerangkan Toharoh itu apa, kenapa harus bersuci kalau mau sholat, bagaimana cara bersuci, pakai apa bersucinya, dan lain-lain. Tiba-tiba dia menjelaskan soal &#8220;mandi Junub&#8221; (mandi besar sebagai salah satu bentuk bersuci kalau mau sholat). Saya agak kaget, tapi terus mengikuti apa yang dikatakan oleh guru muda ini. Ia benar-benar menjelaskan pengertian mandi Junub itu apa. Ia menyebut soal &#8220;Ihtilam&#8221; (mimpi melakukan hubungan seks). &#8220;Orang yang Ihtilam, harus mandi junub sebelum melakukan sholat&#8221; katanya. Dengan agak kesusahan dan malau-malu, dia juga berusaha menjelaskan kepada adik-adik didiknya bahwa mandi Junub itu harus dilakukan oleh orang dewasa tidak saja karena Ihtilam akan tetapi juga karena melakukan hubungan suami istri. Saya lihat, anak-anak peserta ta&#8217;lim itu terdiam, terbengong-bengong, ada yang cekikikan, ada yang tanpa ekspresi, ngantuk karena saya kira mereka tidak paham apa yang dikatakan oleh guru mereka. Saya betul-betul kaget tidak percaya apa yang saya saksikan, saya ikuti dari Ta&#8217;lim anak-anak yang masih sangat polos ini, hingga sang guru menutup Ta&#8217;lim. </p>
<p>       Anak-anak berhamburan keluar masjid sambil berteriak-teriak kesenangan. Tapi saya masih tidak percaya dengan kegiatan keislaman,  pendidikan Islam dan dakwah Islamiyah yang dipandu oleh anak muda muslim yang sangat bersemangat ini yang baru saja saya saksikan. Tak mampu menahan keheranan sekaligus keprihatinan saya, saya tanyalah kepada anak muda itu &#8220;dik kenapa kamu ajarkan soal mandi junub, ihtilam dan lain-lainnya kepada anakp-anak yang masih kecil-kecil itu?&#8221; Dengan tegas dia menjawab &#8220;pak, di banyak kitab Fiqih, pelajaran dimulai dengan Kitab Toharoh. Jadi saya memulai pelajaran Fiqih dengan Toharoh. Ya saya harus menerangkan sampai tuntas supaya anak-anak itu tahu termasuk soal-soal mandi junub, mimpi berhubungan seks dan lain-lainnya.&#8221; Jawaban guru muda ini malah bikin saya merasa heran. &#8220;Ya saya juga tahu itu. Tapi apa anak-anak kecil itu perlu tahu sekarang juga bahwa kalau ngimpi melakukan hubungan seks harus mandi sebelum sholat. Mereka kan gak akan ngimpi yang begitu-begitu dan gak mungkin mandi besar sebelum sholat. Belum waktunya kan dik?&#8221; kata saya. Guru muda menegaskan &#8220;justru saatnya sekarang pak menjelaskan Islam secara Kafah supaya tidak terlambat kepada anak-anak.&#8221;</p>
<p>       Wah, begitukah? Akal dan jiwa sehat saya mengatakan &#8220;ini tidak bener.&#8221; Seorang juru penerang, guru, pendidik, pembina, dai/daiat, mubaligh/mubalighat Islam, harus tahu psikologi; harus tahu ilmu pendidikan dan juga pengajaran; harus tahu apa sebetulnya kebutuhan masarakat. Mengajarkan Islam membutuhkan alat-alat keilmuan lain supaya tidak ngawur. Berdakwah hanya mengandalkan bekal pengetahuan substantif Islam apalagi pas-paspan, sama sekali tidak memadai. Dakwah seperti ini pastilah kering karena tidak ada perspektif dan tidak menyentuh. Dan sudah bisa dipastikan, tidak menarik. Jika budaya dakwah kita ini masih kering begini, maka jangan berharap banyak orang lain yang akan tertarik kepada Islam. Merugikan, kan? Wallahu a&#8217;lam bis sowab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=24&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/09/menjelaskan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meyakinkan Orang Lain Tentang Islam (3)</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/04/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-3/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/04/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 17:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1991, tahun pertama kuliah di McGill University (Montreal, Kanada), saya berkenalan dengan seorang anak muda Oliver Jilsenan namanya. Ia adalah seorang mahasiswa S1 di Concordia University (Montreal), kalau tidak salah, berasal dari keluarga Kristen yang sangat santun, baik dan taat dan ngajar karate.  Beberapa kali saya diajak ke rumahnya selalu disambut dengan sangat hangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=21&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 1991, tahun pertama kuliah di McGill University (Montreal, Kanada), saya berkenalan dengan seorang anak muda Oliver Jilsenan namanya. Ia adalah seorang mahasiswa S1 di Concordia University (Montreal), kalau tidak salah, berasal dari keluarga Kristen yang sangat santun, baik dan taat dan ngajar karate.  Beberapa kali saya diajak ke rumahnya selalu disambut dengan sangat hangat oleh bapak dan ibunya, satu-satunya adik perempuannya dan   anjingnya yang sangat jinak meskipun saya &#8220;gemridig&#8221; rasanya. Kami makan bersama dan ngobrol sana sini. Hangat sekali.</p>
<p>     Perkenalan saya dengan Oliver ini terjadi saat saya bertugas sebagai penunggu stand dalam pameran perdagangan Asia Tenggara. Dia yang pertama kali menyapa dalam bahasa Indonesia yang masih sangat kaku &#8221;apa kabar&#8221;? Dia hanya mengrti beberapa vokabulari Indonesia. Sejak itu saya sering bertemu, jalan-jalan dan bahkan nonton film di gedung bioskup. Tak jarang  juga saya undang ke apartemen tempat saya tinggal dan ngajak makan hasil masakanku sendiri. Enak katanya. Saya dan Oliver menjadi akrab dan bahkan dengan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya. Tak jarang saya ajak dalam berbagai pertemuan dan acara yang dilaksanakan oleh Permika (Persatuan mahasiswa indonesia di kanada): pengajian, makan-makan bersama dan sebagainya.</p>
<p>       Diskusi sering saya lakukan dengan Oliver terutama tentang agama. Dan sejumlah kawan Indonesia yang lainpun sering terlibat dalam pembicaraan ini. Dia begitu sangat &#8220;eager&#8221; untuk mengetahui tetang Islam. Sejumlah pertanyaan yang  diajukan  antara lain &#8220;soal poligami, perang, isi dan bacaan  sholat, kandungan al-Qur&#8217;an dan sebagainya. Tak jarang Oliver membawa al-Qur&#8217;an yang telah diterjemahkan baik dalam bahasa Inggris maupun Perancis, kemudian mengajukan pertanyaan. Hampir semua jawaban atas pertanyaan yang diajukan mendorong kami untuk berdiskusi. Setiap kali kami bertemu di manapun diskusi tentang Islam pasti terjadi. Perbedaan agama antara saya dan Oliver sama sekali tidak menjadi hambatan. Ini memang benar-benar inter religious atau interfaith friendship and dialogue.</p>
<p>     Satu tahun persahabatan saya dan Oliver terjalin dengan sangat baik. Sejak saya pulang dari Montreal setelah menyelesaikan program Master, hubungan saya dan Oliver berlanjut melalui surat. Bahkan dengan kawan-kawan Indonesia khususnya yang berasal dari IAIN yang sedang menempuh studi di McGill University juga terjalin dengan baik. Belakangan saya mendapatkan kabar bahwa Oliver kemudian masuk Islam di hadapan kawan-kawan muslim Indonesia dan menikahi seorang mahasiswi  muslim  berasal dari Aljazair.  Menurut berita dari sejumlah kawan, penampilan Oliver kemudian berubah: Nama diganti dengan nama Islam (saya lupa), berjenggot, berjubah dan kemudian pergi ke Aljazair bersama istrinya. Saya benar-benar tercengung mendengar perubahan hidup Oliver yang berasal dari sebuah keluarga Kristen yang taat.  Oliver saja yang menjadi muslim sementara kedua orang tuanya dan adik perempuannya tetap Kristen yang taat. Sejak itu, saya tidak pernah lagi memperoleh berita tentang Oliver Jilsenan.. ia mendapatkan hidayah menjadi seorang muslim. Yang berbeda, ia muslim dengan jenggot, jubah tapi saya tidak&#8230;.wallahu a&#8217;lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=21&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/04/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meyakinkan Orang Lain Tentang Islam (2)</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/04/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-2/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/04/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 16:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Sepertinya memang tidak sederhana atau tidak gampang menjelaskan Islam dengan cara-cara yang baik dan menyenangkan kepada orang lain atau kepada siapa sajalah. Semua setuju bahwa Islam itu agama yang sangat mulia yang diturunkan kepada manusia agar mereka menjadi orang-orang yang mulia dunia akherat. Tapi tidak sedikit juga sahabat-sahabat kita yang menampilkan, menjelaskan Islam dengan cara-cara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=18&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya memang tidak sederhana atau tidak gampang menjelaskan Islam dengan cara-cara yang baik dan menyenangkan kepada orang lain atau kepada siapa sajalah. Semua setuju bahwa Islam itu agama yang sangat mulia yang diturunkan kepada manusia agar mereka menjadi orang-orang yang mulia dunia akherat. Tapi tidak sedikit juga sahabat-sahabat kita yang menampilkan, menjelaskan Islam dengan cara-cara yang tidak mulia. Dampaknya cukup serius. Menjelaskan dengan cara-cara yang baikpun sebetulnya belum tentu juga orang bisa mengerti dan menerima. Saya sendiri, ketika kuliah di McGill University untuk program Master awal tahun 1990, pernah tinggal satu kos dengan seorang mahasiswa dari Bosnia dan dia Atheis. Suatu saat di dapur terjadi dialog atau debatlah antara saya dengan Si Atheis tadi. Dia heran kenapa saya sholat, puasa dan melakukan kewajiban-kewajiban agama. Bahkan dia juga sangat heran &#8220;kenapa di era modern sekkarang ini ada orang yang namanya sudarnoto, dan orang-orang lain yang beragama, percaya kepada tuhan.&#8221; Buat dia tidak masuk akal orang percaya kepada tuhan; buat apa percaya dan tunduk kepada tuhan yang wujudnya saja tidak ada. Dia begitu heran mengapa orang-orang seperti saya ini tidak mau menentukan jalan hidupnya sendiri secara bebas dan malah tergantung kepada tuhan. Dia mentertawakan saya karena tidak bisa hidup normal. &#8220;Apa maksudmu, bahwa saya tidak normal&#8221;?  Dia bilang, gak normal itu karena tidak bisa menikmati hidup secara bebas, tidak bisa menikmati sex bebas, ndak punya pasangan untuk melakukan hubungan sex. Untuk apa tuhan? &#8220;Tuhan bikin kamu hidup tidak normal&#8221; kira-kira begitulah dia mengatakan.</p>
<p>    Saya berusaha menjelaskan pendirian, keyakinan dan kepercayaan saya terhadap kebenaran agama, tuhan. Tapi memang susah, dia malah tertawa. Semua penjelasan saya tentang Islam tidak bisa dipahami. Saya kira ini kesulitan saya untuk menjelaskan Islam kepada orang Atheis seperti kawan kos saya itu. Saya menyadari bahwa saya gagal. Tapi, habis itu ya tidak terjadi apa-apa. Hubungan perkawanan sesama mahasiswa saya dengan dia tidak terganggu. Dalam hal prinsip kehidupan, kami memang tidak bisa ketemu. Akan tetapi tidak mengganggu perkawanan. Dia tidak menteror saya dan sayapun tak perlu menteror dia. Ya kami bisa bertemu dalam hal-hal tertentu, tapi tetap tidak bisa bertemu dalam hal-hal lain. Ndak tahu, saya kira ini bagian dari prinsip &#8220;saling memahami&#8221; (mutual understanding) dalam kehidupan sehari-hari yang perlu dibangun di kalangan orantg-orang yang berbeda agama. </p>
<p>     Tapi memang ada situasi yang begitu kontras. Sebagian dari sesama orang Islam atau agama-agama lain, berbeda sedikit saja, menimbulkan ketegangan yang sangat luar biasa. Saya kira banyak contoh perbedaan-perbedaan pandangan di kalangan sesama umat beragama menjadi konflik horizontal baik konflik individual maupun kelompok. Inilah yang memprihatinkan, bagaimana mungkin terjadi agama yang mulia melahirkan orang-orang yang justru berprilaku tidak mulia? Tapi itulah faktanya. Saya memang berpendapat banyak faktor dan salah satunya adalah &#8220;penjelasan tentang agama yang sangat minim, kering, sempit dan dengan cara-cara yang tidak benar, tidak tepat&#8221; yang barangkali tidak pernah juga dilakukan oleh Sang Rasul Muhammad. Atas nama mengikuti jejak atau Sunah Rasul, akan tetapi menghardik, mencerca, menfitnah, menghasut orang-orang lain. Ada yang begitu kan? Saya kira ini bukan dakwah. Dakwah tidak begitu. Itu adalah teror atas nama Sunah Rasul, teror atas nama Islam, teror atas nama Allah, teror atas nama hukum-hukum Allah (Syariah Islamiyah)&#8230;Karena itu, perlu berhati-hati berhadapan dengan cara-cara seperti ini..Saya percaya ayat Allah &#8220;Innahum laa ya&#8217; lamun&#8230;.&#8221; mereka sesungguhnya tidak mengerti&#8230;jika mengerti pasti tak kan terjadi melakukan tindakan negatif mengatas namakan Islam&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=18&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/12/04/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>meyakinkan orang lain tentang islam (1)</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/11/30/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-1/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/11/30/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 15:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar pertengahan kedua tahun 1980an saya mulai tinggal di sebuah komplek/perumahan &#8220;Pondok Pucung&#8221; namanya, sebuah wilayah di Pondokaren Tanggerang; dekat wilayah Bintaro. Konon, daerah ini dulunya adalah kebon karet dan tidak terlampau aman. Sepanjang jalan  Ciputat-Pondok Pucung atau Jombang, masih dipenuhi dengan kebon luas yang masih sepi. Jalananpun belum diaspal. Banyak sekali tindak kejahatan hampir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=15&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar pertengahan kedua tahun 1980an saya mulai tinggal di sebuah komplek/perumahan &#8220;Pondok Pucung&#8221; namanya, sebuah wilayah di Pondokaren Tanggerang; dekat wilayah Bintaro. Konon, daerah ini dulunya adalah kebon karet dan tidak terlampau aman. Sepanjang jalan  Ciputat-Pondok Pucung atau Jombang, masih dipenuhi dengan kebon luas yang masih sepi. Jalananpun belum diaspal. Banyak sekali tindak kejahatan hampir di sepanjang jalan ciputat-jombang dan pondok pucung. Mulai tahun 1980an, bermunculan sejumlah perumahan termasuk perumahan tempat saya tinggal yaitu Pondok Pucung. Banyak kebon yang kemudian disulap menjadi perumahan,pertokoan. Kendaraan umumpun mulai banyak. Wilayah ini tidak lagi sepi dan angker. Tingkat kejahatan di jalanan mulai berkurang. Tapi tentu saja &#8220;preman-preman baru&#8221; bermunculan di pasar, terminal, stasiun dan tempat-tempat lain.</p>
<p>     Sejak dibukanya perumahan Pondok Pucung ini, masjid didirikan. Menurut sejarahnya, tidak terlalu gampang untuk mendirikan masjid ini karena harus bersitegang dengan warga Pondok Pucung yang non-muslim. Akan tetapi, aspirasi mayoritas warga muslim pada akhirnya berhasil diwujudkan. Masjid al-Muhajirin namanya. Mantan Perdana Menteri era Orde Lama yaitu alm. Muh Natsir, yang juga mantan pimpinan Partai Islam kaum modernis muslim yaitu Masyumi dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)  ikut menyematkan prasasti pendirian masjid ini. Nama masjid ini al-Muhajirin, karena memang warga Pondok Pucung adalah kaum Muhajirun yang berasal dari mana-mana hijrah di wilayah ini. Mulailah syiar Islam berkembang melalui masjid ini. Ada sholat jamaah, ada pengajian agama, ada kursus bahasa Arab, ada ceramah-ceramah, ada pendidikan al-Qur&#8217;an, macam-macamlah kegiatan dilakukan di masjid ini. Hubungan sesama warga musim sangat dekat. Terbentuk &#8220;Jama&#8217;ah&#8221; atau komunitas muslim yang terorganisir.</p>
<p>     Situasi umum tahun 1980an, sebagai kelanjutan era tahun 1970an,  adalah renggangnya relasi antara penguasa/pemerintah dengan kekuatan Islam. Islam dipandang secara ideologis merupakan kekuatan yang menghawatirkan dan karena itu harus diwaspadai. Banyak contoh yang menggambarkan buruknya relasi ini. Kalau khutbah, harus ijin ke aparat dan naskah khutbahnya harus diperiksa. Jika khutbahnya sedikit melenceng apalagi menyinggung penguasa, aparat segera menciduknya. Tidak nyamanlah secara psikologis. Partai Islampun dikerdilkan supaya tidak menang. Pertanyaannya adalah apakah umat Islam diam? Tidak. Perlawanan dilakukan meskipun secara sembunyi-sembunyi. Salah satu kekuatan yang melakukan resistensi ialah apa yang disebut dengan En 11 (NII, Negara Islam Indonesia) yang merupakan warisan dari gerakan Mbah Kartosuwiryo Darul Islam (DI). Sebagaimana DInya mbah Karto, gerakan NIIpun membangun organisasi kekuasaan berdasarkan wilayah yang tujuan atau cita-citanya ialah, sesuai dengan nama gerakannya, menegakkan negara Islam di Indonesia. Wilayah Pondok Pucung termasuk salah satu basis garapan NII. Sejumlah pengurus masjid al-Muhajirin ditengarai merupakan aktivis atau simpatisan NII ini.</p>
<p>     Pada saat pemerintah bersikap tegas terhadap gerakan NII ini, maka sejumlah pengurus masjidpun menghilang. Masjidpun menjadi sepi, ironis. Warga muslim enggan sholat atau melakukan kegiatan di masjid ini karena hawatir dianggap sebagai bagian dari NII, padahal mereka tidak tahu menahu soal ini. Mereka yang berislam secara tulus ini kemudian merasa terbebani menjadi orang Islam karena bisa menjadi korban kecurigaan. Secara psikologis, menjadi orang islam itu tidak nyaman, tidak tentram. Hemat saya, pencetus cita-cita dan penggerak NII ini telah gagal menjelaskan dan meyakinkan umat bahwa Islam itu menentramkan, menyelamatkan tidak saja orang Islam akan tetapi juga orang-orang lain yang non-muslim sekalipun. Untung saja tidak ada yang murtad.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=15&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/11/30/meyakinkan-orang-lain-tentang-islam-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8230;&#8230;PERKENALKAN&#8230;..</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/18/perkenalkan/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/18/perkenalkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 01:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[    Dongeng Peradaban&#8230;sesuai namanya (makasih ke Vay ponakan yang usulkan pembuatan Blog ini&#8230;) via blog ini saya berkeinginan untuk sharing, tukar menukar atau diskusi dengan siapa saja yang meminati isu-isu peradaban. Isu ini tentu luas bener&#8230;dan karena itu saya sendiri tak kan membatasi diri pada isu-isu yang spesifik. Saya membiarkan keinginan, gagasan, uneg-uneg apa saja yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=13&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p> </p>
<p>Dongeng Peradaban&#8230;sesuai namanya (makasih ke Vay ponakan yang usulkan pembuatan Blog ini&#8230;) via blog ini saya berkeinginan untuk sharing, tukar menukar atau diskusi dengan siapa saja yang meminati isu-isu peradaban. Isu ini tentu luas bener&#8230;dan karena itu saya sendiri tak kan membatasi diri pada isu-isu yang spesifik. Saya membiarkan keinginan, gagasan, uneg-uneg apa saja yang muncul &#8212; sepanjang ini menyangkut apa yang menurut saya &#8220;peradaban&#8221; (civilization atau Hadloroh)&#8211; tampilkan di sini. Mungkin saja ada isu atau topik-topik yang sangat serius, akan tetapi mungkin juga topik-topik yang ringan-ringan muncul di sisni. &#8220;Dongeng&#8221; sengaja juga saya pilih. Namanya juga dongeng, maka tulisan-tulisan di blog ini tak perlu seperti tulisan untuk sebuah seminar apalagi tesis dan disertasi. &#8220;Obrolan&#8221; ringan-ringanlah meskipun tentu saja kita hindari fitnah, sikap diskriminatif dan hasutan. Melalui obrolan atau dongeng ini bolehlah saya berdoa moga-moga benar-benar bermanfaat&#8230;siapa tahu obrolan dan dongeng-dongeng ini bisa menjadi enerji dan inspirasi konstruktif. Terima kasih..selamat menikmati. Jika tidak nikmat, maafkan saya; jika mengganggu atau terganggu maafkan saya&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=13&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/18/perkenalkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangun Peradaban Yang Kuat</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/17/bangun-peradaban-yang-kuat/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/17/bangun-peradaban-yang-kuat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 09:48:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Mas Komar (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat) dalam kapasitasnya sebagai rektor UIN Jakarta suatu saat dalam pidatonya di acara wisuda sarjana UIN yang  ke 77 hari Sabtu 17 Oktober 2009 menguraian soal peradaban. Tema wisuda ini memang soal itu, Islam dan Peradaban. Hemat saya uraian mas Kom ini menarik,  hampir sepenuhnya saya setuju substansinya dan rasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=10&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Komar (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat) dalam kapasitasnya sebagai rektor UIN Jakarta suatu saat dalam pidatonya di acara wisuda sarjana UIN yang  ke 77 hari Sabtu 17 Oktober 2009 menguraian soal peradaban. Tema wisuda ini memang soal itu, Islam dan Peradaban. Hemat saya uraian mas Kom ini menarik,  hampir sepenuhnya saya setuju substansinya dan rasanya penting untuk bahan diskusi siapa saja yang tertarik dengan soal-soal beginian. Jaman dulu, sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rasul Allah, di Arab, dan bahkan di berbagai tempat di dunia ini konflik, peperangan sudah lumrah. Ada dua alasan paling tidak mengapa perang ini muncul terus yaitu &#8220;suku&#8221; (etnis, tribe, Asobiyah bahasa Arabnya) dan &#8220;rampasan perang&#8221; (ghanimah bahasa Arabnya). Jadi, ada <strong>Sukuisme</strong>, atau <strong>Etnisisme </strong>atau <strong>Tribalisme</strong> (sedikit di bawah nasionalisme) dan <strong>Materiisme. I</strong>deologi-ideologi itulah yang menyebabkan perang (berebut atau menundukkan lahan, wilayah secara geografis dan politik). Spirit ini pula yang menyebabkan adanya penjajahan, imperialisme atau kolonialisme. Karena begitu seringnya kisah peperangan, penumpasan, penghancuran, perebutan kekuasaan terjadi untuk sebuah kekuasaan baru, maka muncullah orang-orang yang berkuasa, yang menindas, yang  jago atau memenangkan peperangan dan orang-orang yang dikuasai, di/tertindas, yang  jadi pecundang dan kalah. Jelaslah apa yang diperjuangkan, yang dicari dan ideologi apa yang dianut.</p>
<p>     Ketika Rasul mengembangkan misi kerasulannya dan agama mulai berperan, sejarah manusiapun mulai mengalami perubahan. Orang-orang yang beriman (the believers) atas nama dan karena keagungan Tuhan dan ajaran agama mulai bergerak menyapa, mengajak dan kalau perlu memaksa orang-orang lain untuk beriman. kalau ajakan ini tidak diterima, maka akan diperangi. Jadi, perang lagi. Dengan demikian, perang itu terjadi, disamping karena alasan &#8220;Asobiyah&#8221; dan &#8220;Ghonimah&#8221; sebagaimana yang telah saya sebut-sebut di atas, juga karena alasan &#8220;Aqidah.&#8221; Sejarah manusia kembali dipenuhi oleh kisah-kisah perang  karena alasan dan tujuan-tujuan  Aqidah. Memerangi orang atau bangsa lain atas nama atau bertopeng agama; agama dijadikan alat lejitimasi untuk memerangi, mengalahkan dan menghancurkan orang atau bangsa kain. Sama kejadiannya, ada yang memang ada yang kalah. Yang pasti kehancuran tak bisa dihindarkan dan peradaban luhur tak kan terbangun. Panteslah pernah ada teori &#8220;sword religion&#8221; meskipun sudah tak laku lagi.</p>
<p>       Islam untungnya memperkenalkan konsep &#8220;Rahmatan Lil Alamin.&#8221;  Tiga spirit di atas (Asobiyah, Ghanimah dan Aqidah), supaya tidak liar maka dilandasi dengan konsep rahmatan lil alamin. Inilah yang kemudian melahirkan kebudayaan (culture atau <strong>Tsaqofah</strong> Bahasa Arabnya) dan peradaban (civilization atau <strong>Hadloroh</strong> Bahasa Arabnya). Jadi, tidak ada lagi pandangan sempit kesukuan, tribalisme atau sukuisme. Yang ada adalah umat yang sangat menghargai  perbedaan bahkan perbedaan agama sekalipun. Tidak ada masalah mengapa saya beragama islam, kamu beragama Kristen, dia Hindu, mereka Yahudi dan lain-lain. Kan ada ayat al-Qur&#8217;annya yang mendorong spirit menghargai dan tidak mempertentangkan perbedaan agama; ada kebebasan memilih agama apa saja.&#8221;Lakum dinukum waliya din&#8221;. Itu ayatnya. Jadi, rukun, damai, tak saling curiga mencurigai, tidak ada yang menelikung atau menghianati perkawanan umat beragama ini. Yang terasa dalam kehidupan yang beraneka baik suku dan agama ini adalah &#8220;Rahmat Allah.&#8221; Itulah Rahmatan lil Alamin. </p>
<p>    Nah, Tsaqofah dan  Hadloroh Islamiyah ini universal, tidak diskriminatif untuk siapa saja. Tsaqofah dan Hadloroh ini menjadi kokoh dengan pilar ilmu pengetahuan dan tentu juga iman. Lihatlah era Abbasyiah (the goden age of islam). Tak mungkin sebuah kebudayaan atau peradaban akan berdiri tegak jika ilmu pengetahuan tidak dikembangkan.Syaratnya itu, ilmu pengetahuan.  Karena itu, tak ada pilihan bagi kita &#8220;berilmu pengetahuan.&#8221; Kata-kata &#8220;perang&#8221; primitif  yang menghancurkan, harus kita ganti dengan kata-kata &#8221;kompetisi&#8221; sehat untuk peradaban. Kata Mas Kom, orang-orang Eropa sudah mengganti perang primitif antar suku untuk banyak alasan dengan &#8220;pertandingan sepak bola.&#8221; Bangsa lain seperti Jepang, dulu perang primitif dan menghancurkan dengan Sekutu, kini diganti dengan memperbaiki, meningkatkan kualitas pendidikan. Dan Amerika sekarang ini harus menyaksikan pendidikan, produk sains dan teknologi Jepang sebagai &#8220;karya dan langkah yang  jempolan&#8221; untuk berkompetisi dengan Amerika dan tentu negara-negara maju lainnya. </p>
<p>     Lalu, gimana dong bangsa-bangsa dan negara-negara muslim? tak ada pilihan, belajarlah dari kesuksesan bangsa-bangsa lain, apalagi dunia muslim juga pernah sukses di bidang ini. Bangkit, bangkit, untuk sebuah peradaban yang kuat&#8230;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=10&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/17/bangun-peradaban-yang-kuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama dan Modernisasi (2)</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/15/agama-dan-modernisasi-2/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/15/agama-dan-modernisasi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 14:57:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Perdebatan tentang dampak modernisasi terhadap eksistensi agama sudah lama terjadi. Memang ada yang bilang modernisasi pada akhirnya akan menggantikan fungsi-fungsi agama. Agama yang pada dasarnya memberikan pilihan cara hidup yang &#8220;cespleng&#8221; agar manusia bisa hidup dengan tentram, nyaman, tenang, damai, ndak usah pake festival angkara murka dan konflik, ndak usah pake ketegangan plotot-plototan yang menyebabkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=8&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perdebatan tentang dampak modernisasi terhadap eksistensi agama sudah lama terjadi. Memang ada yang bilang modernisasi pada akhirnya akan menggantikan fungsi-fungsi agama. Agama yang pada dasarnya memberikan pilihan cara hidup yang &#8220;cespleng&#8221; agar manusia bisa hidup dengan tentram, nyaman, tenang, damai, ndak usah pake festival angkara murka dan konflik, ndak usah pake ketegangan plotot-plototan yang menyebabkan &#8220;bedil-bedilan&#8221; (tembak-tembakan) pertentangan horizontal antar sesama, mulai tergeser dengan kehadiran modernisasi yang dintrodusir oleh pemerintah atau siapapun juga. Modernisasi malah justru dirasakan lebih menjanjikan sebuah kehidupan yang tak terbayangkan sebelumnya; modernisasi menyediakan tidak saja impian-impian, harapan-harapan masa depan akan tetapi alat-alat canggih untuk mempercepat menggapai cita-cita. Jaman dulu, ketika alat transportasi tradisional adalah naik onta, atau yang lebih cepat lagi naik kuda (mungkin juga naik kambing..kalau ada kambing yang bisa dinaiki), atau naik kerbau (kalau mau), perjalanan menuju tujuan tentu lama dan belum tentu nyaman apalagi kalau binatang-binatang itu mau beser, mau buang angin dan air besar dan ngambek kecape&#8217;an lagi. Walah&#8230;mumet. Pergantian jaman, manusia cerdas mulai melakukan inovasi di berbagai bidang termasuk inovasi teknologi transportasi. Dampaknya luwaas sekali&#8230;transformasi sosial ekonomi dan bahkan juga kebudayaan terjadi. Niali-nilai tradisional termasuk sistim kepercayaan yang selama ini diproteksi secara ekstra ketat lewat berbagai media (cerita, seni, lembaga, dan lain-lain) mulai  sedikit demi sedikit terpinggirkan (termarjinalisasi). Kenapa yak? Karena, antara lain kesaktian, kedigdayaan atau keampuhan agama untuk memberikan janji kehidupan yang &#8220;gemah ripah loh jinawi, baldatun toyibatun wa robbun gofur atau baladun aminun&#8221; tak kunjung terwujud. Kalangan yang skeptikal tentu bilang &#8220;mane&#8230;katanya agama memberikan bekal atau alat agar kehidupan itu makmur. Tapi mana buktinya? janjinya doang seperti yang tertulis di dalam kitab-kitab suci mau tegakkan keadilan, wujudkan kesejahteraan, hadirkan kebahagiaan, dan baldatun toyyibatun wa robbun gofur tadi. janji doang &#8230;jangan percaya dah sama agama.&#8221; Agama itu utopis, malah kalangan Marxis bilang agama tu racun..ngracuni kehidupan sehingga kehidupan ini menjadi begitu kabur, tak jelas, ngimpi-ngimpi aja isinya..modernisasi malah lebih jelas dan menjanjikan; modernisasi lebih ampuh.  Tapi tak sedikit juga kalangan yang meyakini bahwa modernisasi gak bakalan menggerus atau meminggirkan agama. Agama justru akan memberikan nilai lebih dan kekuatan atau landasan filosofis yang kokoh terhadap modernisasi.  Modernisasi akan lebih berkualitas dengan agama;  menjadi negara maju secara sosial, ekonomi dan politik, tak perlu meminggirkan agama. Menjadi masarakat dan negara yang maju sains dan teknologinya, justru memperkokoh keberadaan atau eksistensi agama. Modenisasi dan agama saling memperkuat dan masarakat nggak usah puyeng.</p>
<p>       Gitulah perdebatan teoritis atau konseptualnya tentang agama dan modernisasi, harus saling ngapain mereka? Saya sendiri cenderung tidak skeptikal terhadap masa depan keduanya, agama dan modernisasi. Dan masarakat harus kuat bermartabat dengan keduanya. Karena itu, kauman yang saya ceritakan di uraian terdahulu mustinya tetap merupakan komunitas atau masarakat santri yang kuat, tapi sekaligus modern, nggak GaTek. Mungkin Kauman hanyalah satu kasus saja di mana nilai-nilai agama, ajaran dan tradisi agama mulai terabaikan begitu TV, Game, Email,  HP  dan lain-lain bermunculan hampir di setiap sudut kampungku Kauman. Moga-moga saja begitu. Tapi, saya sendiri ndak terlampau yakin. Kuat kecenderungan manusia atau anak-anak bangsa modern kita ini yang menjadi obsesif atau malah suka berkhayal yang enggak-enggak gara-gara game, gara-gara dunia maya, gara-gara hiburan yang hedonis. Qur&#8217;an mulai jarang disentuh (apalagi dibaca), doa-doa nggak banyak yang tahu, bacaan sholat pas-paspasan, atau jangan-jangan ndak tertarik untuk sholat, puasa ramadhan juga seadanya sehingga nggak dapat apa-apa dari kehadiran bulan suci ramadhan kecuali lapar dahaga lelah fisik lelah batin. Mereka kering..kering; mereka tunduk setunduk tunduknya terhadap irama hidup rutin bagai mesin teknologi tanpa ruh. Mereka memang manusia modern dalam pengertian logika modernitas dikuasai. Tapi ya..tadi ..mereka  tetap belum punya ruh..sayang sekali.</p>
<p>      Terlambatkah kita? Tidaklah&#8230;peluang masih terbuka lebar..lebar sekali untuk tidak sekedar memperbaiki filsafat kehidupan yang rusak-rusak,akan tetapi sekaligus memberikan alternatif atau paradigma baru bagi kehidupan ini. Dengan cara ini kehadiran agama benar-benar terasa meskipun masarakat telah menjadi sangat advenced dalam soal sains dan teknologi dan sudah sudah sangat modern. Mari kita coba&#8230;.wallahu a&#8217;lam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=8&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/10/15/agama-dan-modernisasi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama dan Modernisasi (1)</title>
		<link>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/09/26/agama-dan-modernisasi-1/</link>
		<comments>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/09/26/agama-dan-modernisasi-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 16:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarnoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengperadaban.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Salam. Beberapa puluh tahun yang silam,saat masih SD, kampung kelahiran saya (Kauman Banjarnegara) nampak jelas merupakan kampungnya Kaum Santri. Tanda-tandanya banyak antara lain: ketaatan warga untuk melaksanakan syariat. Yang sangat menonjol tentunya adalah sholat jamaah di Masjid; pake sarung,pake kopiah bagi kaum laki-laki. Sehabis Maghrib,hampir di setiap rumah terdengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur&#8217;an. Tak ada satu wargapun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=4&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam.</p>
<p>Beberapa puluh tahun yang silam,saat masih SD, kampung kelahiran saya (Kauman Banjarnegara) nampak jelas merupakan kampungnya Kaum Santri. Tanda-tandanya banyak antara lain: ketaatan warga untuk melaksanakan syariat. Yang sangat menonjol tentunya adalah sholat jamaah di Masjid; pake sarung,pake kopiah bagi kaum laki-laki. Sehabis Maghrib,hampir di setiap rumah terdengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur&#8217;an. Tak ada satu wargapun yang keluyuran keluar rumah untuk tujuan yang  tidak jelas, apalagi nongkrong-nongkrong menghabiskan waktu. Malam hari adalah untuk mengaji al-Qur&#8217;an, mendengarkan petuah-petuah dari orang-orang tua (terutama mbah putri), belajar untuk keperluan sekolah dan diajari lagu-lagu spiritual keagamaan. Ada satu lagu yang syairnya sbb:</p>
<p>&#8220;eling-eling siro manungso, temenono anggonmu ngaji, mumpung durung katekanan, malaikat juru pati.&#8221;</p>
<p>Artinya: Ingat-ingatlah kamu semua wahai manusia, seriuslah mempelajari al-Qur&#8217;an, mumpung Malaikat pencabut nyawa belum datang.</p>
<p>Masih banyak lagu yang saya pelajari dan nyanyikan dengan senang. Tema-temanyapun beragama. Yang pasti, penanaman kesadaran atau komitmen untuk melaksanakan ajaran agama cukuplah kental. Dan ini sangat mewarnai kehidupan sehari-hari. Bahkan relijiusitas (keberagamaan) warga kampung kauman ini juga nampak dalam berbagai festival atau upacara-upacara keagamaan dan tentu juga dalam hubngan-hubungan sosial antara anggauta keluarga dan juga warga. Bulan ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dan mengesankan. Selain sahur, berpuasa dan berbuka, bulan ramadhan diisi dengan  berbagai acara keagamaan. Suasana relijius benar-benar terasa.     Seperti diuraikan oleh Clifford Geertz dalam karya klasiknya, ciri penting Kaum Santri memang adalah ketaatan mereka terhadap ajaran agama.</p>
<p>    Hingga pertengahan pertama tahun 1970an suasana relijius ini masih terasa. Tapi setelah itu, modernisasi mulai menggeser nilai-nilai agama ini  dan secara perlahan tapi pasti mulai tergantikan dengan sikap hidup yang sangat pragmatis dan sekular.Arus pragmatisme dan sekularisme ini antara lain lewat TV. Tak sedikit tayangan TV yang mempertontonkan pola hidup yang sangat pragmatis dan bahkan kemudian hedonis yang meyakini bahwa hidup yang sesungguhnya adalah di dunia; menjalankan/memperjunagkan kehidupan itu  adalah untuk sebuah kenikmatan duniawi an sich;  karena itu, juga hedonis dan tak meyakini agama adalah penting bagi kehidupan.  Kauman mengalami perubahan kalau tidak bisa disebut sebagai krisis nilai. Landasan penting bagi bangunan kebudayaan atau peradaban umat melemah. Generasi anak-anak sy tak bisa lagi menikmati suasana reljius yang indah di kauman sebagaimana yang aku saksikan masa kecil di kauman. Tentu saja ini efek negatif dari modernisasi yang juga terjadi di banyak tempat. Pertanyaannya adalah apakah modernisasi selalu berdampak negatif dan meminggirkan agama? Tentu tidak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongengperadaban.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongengperadaban.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongengperadaban.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongengperadaban.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongengperadaban.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongengperadaban.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongengperadaban.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongengperadaban.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongengperadaban.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongengperadaban.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongengperadaban.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongengperadaban.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongengperadaban.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongengperadaban.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongengperadaban.wordpress.com&amp;blog=9661756&amp;post=4&amp;subd=dongengperadaban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengperadaban.wordpress.com/2009/09/26/agama-dan-modernisasi-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61c832409dd6f8e6227965c5f1d489e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudarnoto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
