Bumi Yang Hijau dan Menyehatkan
Di halaman rumah tempat tinggal kami sekeluarga, perumahan pondok pucung, ada pohon rambutan. Di bawah pohon itu saya bikin kolam ikan hias yang dikelilingi tanaman bunga dan tanaman hias lainnya. Tak besar, kecil saja. Saya menyukai suasana itu. Kalau siang hari waktu libur, sering duduk-duduk di bawah pohon rambutan yng cukup rindang sambil memperhatikan ikan-ikan hias, dua kura-kura berenang bolak-balik ke sana kemari. Sesekali kedua kaki saya masukkan ke kolam dan ikan-ikan yang lucu-lucu itu mengerumuni dua kaki saya dan menggigit-gigit. Mereka pikir, ini makanan baru. Tidak sakit tentunya tapi geli…saya sering tertawa kegelian.
Saya betul-betul merawat hampir setiap hari ikan,kolam,taman kecil dan pohon rambutan. Aku sirami mereka semua. Dahan-dahan rambutan yang bergoyang-goyang saat aku siram, sepertinya sedang tersenyum, senang sekali. Semakin bergoyang,semakin lama aku menyirami mereka. Begitu juga ikan dan tanaman-tanaman yang ada di halaman rumah kami. “senang sekali mereka, subhanallah…” Sepertinya, saya tidak akan berhenti bercengkerama dengan makhluq-makhluq Allah di halaman rumah kalau saja istri saya tidak mengingatkan untuk berhenti “sudah ayah..”
Terus terang makhluq-makhluq itu telah memberikan banyak kepada kita. Pohon rambutan, disamping menyejukkan karena rimbun, juga buahnya yang hampir setiap tahun kamipetik. Rasanya hampir semua tetangga di RT kami tinggal kebagian rambutan kami. Enak, manis. Saya tahu juga, anak-anak kampung yang ada di sekiktar perumahan kami, sering manjat atau memetik rambutan tanpa ijin. Sesekali mereka teriak bersama-sama: “buu…minta rambutannya doong…” Pendeknya, pohon ini menyenangkan banyak orang. Begitu juga ikan dan tanaman-tanaman hias yangmayoritas berwarna hijqau. Memberikan rasa damai, tentram, nikmat, sejuk, bahagia, ceria. Allah telah menakdirkan itu semua. Saya sangat merasakan nikmatnya bersama ikan,kolam, pohon, buah dan tanaman hias itu.
Karena itu, saya sering sedih dan gundah setiap saat, di mana saja, melihat lahan kering, hutan dibakar, pepohonan persawahan atau perkebunan dihabisi atas nama “pembangunan”, atas nama “modernisasi” atas nama “kemajuan” atas nama “menimba rejeki lain.” Saya tak habis pikir, betapa teganya mereka yang menjual lahan hijau rimbun penuh buah dan aroma bunga, atau sawah, ladang kepada orang-orang yang gila uang. Semuanya disulap kering menjadi gedung,mall, menjadi pabrik dan macama-macam. Cacing-cacing tak lagi hidup nyaman dan pastilah mati karena tempat mereka sudah menjadi beton. Ikan-ikan di empangpun tak lagi ada karena empangnyapun sudah menjadi perumahan, real estate.
Krisis lingkungan sudah lama terjadi, climate change dan global warming tak bisa dihindari. Sudah banyak seminar, diskusi, konferensi tentang memburuknya bumi kita ini. Di kampus saya, UIN Jakarta, pernah dilakukan pembahasan tentang “Fiqih Biah” atau Fiqih lingkungan, kerja sama UIN dengan KLH. Hadir sejumlah pembicara mewakili beberapa negara muslim maupun non muslim. Saya sendiri pada waktu itu menjadi penanggung jawab event itu. Setelah itu beberapa kali pertemuan, diskusi serius tentang lingkungan yang melibatkan banyak kalangan ahli. Sebagai tindak lanjut, kita (UIN) ingin kembangkan kebijakan serius tentang Kampus Berwawasan Lingkungan. Bagi saya, ide ini sangat penting dan kampus harus menjadi “teladan” masarakat menjaga kelestarian lingkungan. Langklah kecil yang sudah dilakukan ialah penanaman pohon langka di kampus yang dilakukan oleh tamu-tamu penting UIN. Sudah lumayan meskipun tentu sangat belum cukup. Sejak jebolnya Situ Gintung, krisis air mulai terasa. Di ciputat dan sekitarnya sudah ada beberapa Situ yang hilang atau dihilangkan/ditimbun. Yang tersisapun membutuhkan perawatan sangat serius. Dan kampus perlu andil. Perbincangan dengan pemerintah lokal (Walikota Tangerang Selatan) sudah dimulai. Perlu bahu membahu banyak pihak untuk menyelamatkan lingkungan, kemanusiaan dan peradaban.
Islam adalah ajaran yang sangat luhur antara lain mengingatkan kepada kita semua agar menjaga kehidupan bumi ini, jangan melakukan kerusakan (al-Fasad). Perlulah kaidah-kaidah atau ajaran Islam ini benar-banar diterjemahkan secara kongkrit. Kita ini adalah pemegang amanat Allah karena itu jangan khianati amanat ini supaya bumi kita ini tetap sehat dan menyehatkan…..gemah ripah loh jinawi, baldatun thoyibatun wa robbun ghafur…Saya setiap saat merindukan pohon-pohon, dedaunan, tanaman, air,ikan dan semua makhluq Allah hidup berdampingan penuh senyum, damai, saling menjaga kehidupan……

subhannallah, saya mengira bapak seorang yg berkarakter serius, ternyata bapak juga tipe yg peduli lingkungan, dan ramah dengan keluarga,rambutannya masih banyak tidak pak, boleh deh nanti saya mampir ke rumah, jika saya tau alamatnya.
makasih….kalau di kampus atau di kantor tentu ngurusi macam-macam. Ya ngajar, ya mengembangkan program-program kampus, ya bikin surat dan menandatangani, ya silaturahmi untuk menjalin kerjasama nasional maupun internasional. Tapi, ya berusaha kampus (UIN) menjadi hijau ramah dengan burung-burung, kupu-kupu. Mahasiswa dan civitas akademika nyaman. Di kampus banyak pohon buah-buahan juga. Banyak tamu termasuk dari luar negeri yang terkesan. Saya merasa, kewajiban kita semua untuk menjaga lingkungan yang sehat dan menyehatkan. Itu ajaran Islam kan? Tentang rambutan, memang sudah berbuah dan mulai habis terbagi…termasuk terbagi atau terambil oleh musang dan kelelawar di malam hari. Saya biarkan…ini rejeki mereka juga.
wah, lain daripada yg lain ‘tulisan hijau’nya kali ini Om. Mudah2an masih kebagian rambutan pas mudik nanti hehehe. ini pohon banyak bener amalnya ya om, masuk surga dia nanti, amin
iya….ada sejumlah rambutan yang masih bergelantungan di pohon…melambai-lambai minta dipetik sebagai amal menyenangkan kita semua…..
wah..kayanya team IO harus berkunjung kerumah bapak nie sambil mencicipi rambutan hehehhe.
saya setuju bangeth pak dengan tulisan bapak…. tapi memang sangat sulit untuk menyadarkan lingkungan kita.
Tetap semangat pak untuk save the earth.
makasih banyak…..boleh juga suatu saat nanti.