Menjelaskan Islam

Suatu saat, sekitar tahun 2005, setelah menunaikan sholat Jamaah Maghrib di Masjid al-Muhajirin di perumahan tempat saya tinggal, saya duduk-duduk bersama salah saorang pengurus masjid memperhatikan pengajian yang diikuti oleh anak-anak usia SD. Sebetulnya bukan pengajian, akan tetapi kegiatan “Ta’lim” (belajar agama) yang dipandu oleh seorang guru laki-laki, masih sangat muda usia sekitar 20 tahunanlah.  Pesertanya, anak-anak usia SD, cukup banyak. Ramai, hirup pikuk. Ada yang berlari-larian, kejar-kejaran ke sana ke mari; ada yang berguling-guling di atas karpet masjid; ada juga yang duduk serius menghafal doa dan surat-surat pendek. Sang guru muda sesekali mengeluarkan suara keras untuk menandingi teriakan anak-anak dan bahkan terpancing kesabarannya karena tingkah anak-anak. Dia jewer anak-anak itu. “Aduh kak, sakit….gak lagi deh” kata salah seorang anak yang dijewer. “Hayo semuanya, duduk melingkar lagi, kita baca surat-surat pendek bersama-sama” ajak sang guru. Anak-anak itupun mengikuti perintah guru muda mereka dan mulai membaca surat-surat pendek secara bersama-sama. Bersemangat sekali mereka.

       Selesai menuntun anak-anak membaca surat-surat pendek,  sang guru muda kemudian menjelaskan soal Fiqih. “Adik-adik, sekarang kita belajar Fiqih. Kita mulai dengan Toharoh (bersuci).” Saya ikuti dan perhatikan terus apa yang dijelaskan oleh guru muda yang sangat bersemangat ini. Ia mulai menerangkan Toharoh itu apa, kenapa harus bersuci kalau mau sholat, bagaimana cara bersuci, pakai apa bersucinya, dan lain-lain. Tiba-tiba dia menjelaskan soal “mandi Junub” (mandi besar sebagai salah satu bentuk bersuci kalau mau sholat). Saya agak kaget, tapi terus mengikuti apa yang dikatakan oleh guru muda ini. Ia benar-benar menjelaskan pengertian mandi Junub itu apa. Ia menyebut soal “Ihtilam” (mimpi melakukan hubungan seks). “Orang yang Ihtilam, harus mandi junub sebelum melakukan sholat” katanya. Dengan agak kesusahan dan malau-malu, dia juga berusaha menjelaskan kepada adik-adik didiknya bahwa mandi Junub itu harus dilakukan oleh orang dewasa tidak saja karena Ihtilam akan tetapi juga karena melakukan hubungan suami istri. Saya lihat, anak-anak peserta ta’lim itu terdiam, terbengong-bengong, ada yang cekikikan, ada yang tanpa ekspresi, ngantuk karena saya kira mereka tidak paham apa yang dikatakan oleh guru mereka. Saya betul-betul kaget tidak percaya apa yang saya saksikan, saya ikuti dari Ta’lim anak-anak yang masih sangat polos ini, hingga sang guru menutup Ta’lim. 

       Anak-anak berhamburan keluar masjid sambil berteriak-teriak kesenangan. Tapi saya masih tidak percaya dengan kegiatan keislaman,  pendidikan Islam dan dakwah Islamiyah yang dipandu oleh anak muda muslim yang sangat bersemangat ini yang baru saja saya saksikan. Tak mampu menahan keheranan sekaligus keprihatinan saya, saya tanyalah kepada anak muda itu “dik kenapa kamu ajarkan soal mandi junub, ihtilam dan lain-lainnya kepada anakp-anak yang masih kecil-kecil itu?” Dengan tegas dia menjawab “pak, di banyak kitab Fiqih, pelajaran dimulai dengan Kitab Toharoh. Jadi saya memulai pelajaran Fiqih dengan Toharoh. Ya saya harus menerangkan sampai tuntas supaya anak-anak itu tahu termasuk soal-soal mandi junub, mimpi berhubungan seks dan lain-lainnya.” Jawaban guru muda ini malah bikin saya merasa heran. “Ya saya juga tahu itu. Tapi apa anak-anak kecil itu perlu tahu sekarang juga bahwa kalau ngimpi melakukan hubungan seks harus mandi sebelum sholat. Mereka kan gak akan ngimpi yang begitu-begitu dan gak mungkin mandi besar sebelum sholat. Belum waktunya kan dik?” kata saya. Guru muda menegaskan “justru saatnya sekarang pak menjelaskan Islam secara Kafah supaya tidak terlambat kepada anak-anak.”

       Wah, begitukah? Akal dan jiwa sehat saya mengatakan “ini tidak bener.” Seorang juru penerang, guru, pendidik, pembina, dai/daiat, mubaligh/mubalighat Islam, harus tahu psikologi; harus tahu ilmu pendidikan dan juga pengajaran; harus tahu apa sebetulnya kebutuhan masarakat. Mengajarkan Islam membutuhkan alat-alat keilmuan lain supaya tidak ngawur. Berdakwah hanya mengandalkan bekal pengetahuan substantif Islam apalagi pas-paspan, sama sekali tidak memadai. Dakwah seperti ini pastilah kering karena tidak ada perspektif dan tidak menyentuh. Dan sudah bisa dipastikan, tidak menarik. Jika budaya dakwah kita ini masih kering begini, maka jangan berharap banyak orang lain yang akan tertarik kepada Islam. Merugikan, kan? Wallahu a’lam bis sowab.

~ oleh sudarnoto pada Desember 9, 2009.

2 Tanggapan to “Menjelaskan Islam”

  1. setuju banget pak noto…

    saya pernah diajak mengajar tpa…dan kurang lebih yang diajarkan melulu berkutat pada fiqh…

    padahal dalam kacamata saya…anak2 itu sukanya cerita…maka pelajaran yang mesti diberikan kepada mereka tentang islam pertama2 ya sejarah itu…supaya mereka cinta dulu pada islam…kalau sudah cinta tentu mereka dengan sendirinya berusaha mengenali apa itu islam…

    hehe…agak bias lulusan sejarah islam nih pak

    • Mr Yes, bias spi itu gak apa-apa. Bagus itu. Artinya, spi sudah mendarah dan mendaging…tapi ya memang begitu kebanyakan pengajian-pengajian kita di mana-mana. Orientasi Fiqihnya kuat sekali. Tidak salah, akan tetapi kalau hanya itu dan metode penjelasannya tidak pas bisa bermasalah. Apalagi kalau fiqih disempitkan hanya fiqih ibbadah saja. Fiqih itu memang mengatur banyak hal dan hemat saya yang paling berpengaruh dalam keberislaman umat. Fiqih itu ngatur atahiyat gerak-gerak jarinya apa tidak sampai ngurusin negara. Kompleks dan luas sekali. Saya tak keberatan jika pengajaran Fiqihnya itu luas perspektifnya,tidak pake kacamata kuda.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.