Meyakinkan Orang Lain Tentang Islam (3)

Pada tahun 1991, tahun pertama kuliah di McGill University (Montreal, Kanada), saya berkenalan dengan seorang anak muda Oliver Jilsenan namanya. Ia adalah seorang mahasiswa S1 di Concordia University (Montreal), kalau tidak salah, berasal dari keluarga Kristen yang sangat santun, baik dan taat dan ngajar karate.  Beberapa kali saya diajak ke rumahnya selalu disambut dengan sangat hangat oleh bapak dan ibunya, satu-satunya adik perempuannya dan   anjingnya yang sangat jinak meskipun saya “gemridig” rasanya. Kami makan bersama dan ngobrol sana sini. Hangat sekali.

     Perkenalan saya dengan Oliver ini terjadi saat saya bertugas sebagai penunggu stand dalam pameran perdagangan Asia Tenggara. Dia yang pertama kali menyapa dalam bahasa Indonesia yang masih sangat kaku ”apa kabar”? Dia hanya mengrti beberapa vokabulari Indonesia. Sejak itu saya sering bertemu, jalan-jalan dan bahkan nonton film di gedung bioskup. Tak jarang  juga saya undang ke apartemen tempat saya tinggal dan ngajak makan hasil masakanku sendiri. Enak katanya. Saya dan Oliver menjadi akrab dan bahkan dengan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya. Tak jarang saya ajak dalam berbagai pertemuan dan acara yang dilaksanakan oleh Permika (Persatuan mahasiswa indonesia di kanada): pengajian, makan-makan bersama dan sebagainya.

       Diskusi sering saya lakukan dengan Oliver terutama tentang agama. Dan sejumlah kawan Indonesia yang lainpun sering terlibat dalam pembicaraan ini. Dia begitu sangat “eager” untuk mengetahui tetang Islam. Sejumlah pertanyaan yang  diajukan  antara lain “soal poligami, perang, isi dan bacaan  sholat, kandungan al-Qur’an dan sebagainya. Tak jarang Oliver membawa al-Qur’an yang telah diterjemahkan baik dalam bahasa Inggris maupun Perancis, kemudian mengajukan pertanyaan. Hampir semua jawaban atas pertanyaan yang diajukan mendorong kami untuk berdiskusi. Setiap kali kami bertemu di manapun diskusi tentang Islam pasti terjadi. Perbedaan agama antara saya dan Oliver sama sekali tidak menjadi hambatan. Ini memang benar-benar inter religious atau interfaith friendship and dialogue.

     Satu tahun persahabatan saya dan Oliver terjalin dengan sangat baik. Sejak saya pulang dari Montreal setelah menyelesaikan program Master, hubungan saya dan Oliver berlanjut melalui surat. Bahkan dengan kawan-kawan Indonesia khususnya yang berasal dari IAIN yang sedang menempuh studi di McGill University juga terjalin dengan baik. Belakangan saya mendapatkan kabar bahwa Oliver kemudian masuk Islam di hadapan kawan-kawan muslim Indonesia dan menikahi seorang mahasiswi  muslim  berasal dari Aljazair.  Menurut berita dari sejumlah kawan, penampilan Oliver kemudian berubah: Nama diganti dengan nama Islam (saya lupa), berjenggot, berjubah dan kemudian pergi ke Aljazair bersama istrinya. Saya benar-benar tercengung mendengar perubahan hidup Oliver yang berasal dari sebuah keluarga Kristen yang taat.  Oliver saja yang menjadi muslim sementara kedua orang tuanya dan adik perempuannya tetap Kristen yang taat. Sejak itu, saya tidak pernah lagi memperoleh berita tentang Oliver Jilsenan.. ia mendapatkan hidayah menjadi seorang muslim. Yang berbeda, ia muslim dengan jenggot, jubah tapi saya tidak….wallahu a’lam.

~ oleh sudarnoto pada Desember 4, 2009.

Satu Tanggapan to “Meyakinkan Orang Lain Tentang Islam (3)”

  1. ko saya ngerasa ada yang salah ya pak sama oliver…kesannya islam jadi eksklusif…dan menarik dia dari akarnya…

    masa sih dia tega memutus hubungan dengan keluarga…dan teman2nya…

    atau mungkin saya yang belum dapet hidayah betulan kali ya hehe

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.