meyakinkan orang lain tentang islam (1)
Sekitar pertengahan kedua tahun 1980an saya mulai tinggal di sebuah komplek/perumahan “Pondok Pucung” namanya, sebuah wilayah di Pondokaren Tanggerang; dekat wilayah Bintaro. Konon, daerah ini dulunya adalah kebon karet dan tidak terlampau aman. Sepanjang jalan Ciputat-Pondok Pucung atau Jombang, masih dipenuhi dengan kebon luas yang masih sepi. Jalananpun belum diaspal. Banyak sekali tindak kejahatan hampir di sepanjang jalan ciputat-jombang dan pondok pucung. Mulai tahun 1980an, bermunculan sejumlah perumahan termasuk perumahan tempat saya tinggal yaitu Pondok Pucung. Banyak kebon yang kemudian disulap menjadi perumahan,pertokoan. Kendaraan umumpun mulai banyak. Wilayah ini tidak lagi sepi dan angker. Tingkat kejahatan di jalanan mulai berkurang. Tapi tentu saja “preman-preman baru” bermunculan di pasar, terminal, stasiun dan tempat-tempat lain.
Sejak dibukanya perumahan Pondok Pucung ini, masjid didirikan. Menurut sejarahnya, tidak terlalu gampang untuk mendirikan masjid ini karena harus bersitegang dengan warga Pondok Pucung yang non-muslim. Akan tetapi, aspirasi mayoritas warga muslim pada akhirnya berhasil diwujudkan. Masjid al-Muhajirin namanya. Mantan Perdana Menteri era Orde Lama yaitu alm. Muh Natsir, yang juga mantan pimpinan Partai Islam kaum modernis muslim yaitu Masyumi dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ikut menyematkan prasasti pendirian masjid ini. Nama masjid ini al-Muhajirin, karena memang warga Pondok Pucung adalah kaum Muhajirun yang berasal dari mana-mana hijrah di wilayah ini. Mulailah syiar Islam berkembang melalui masjid ini. Ada sholat jamaah, ada pengajian agama, ada kursus bahasa Arab, ada ceramah-ceramah, ada pendidikan al-Qur’an, macam-macamlah kegiatan dilakukan di masjid ini. Hubungan sesama warga musim sangat dekat. Terbentuk “Jama’ah” atau komunitas muslim yang terorganisir.
Situasi umum tahun 1980an, sebagai kelanjutan era tahun 1970an, adalah renggangnya relasi antara penguasa/pemerintah dengan kekuatan Islam. Islam dipandang secara ideologis merupakan kekuatan yang menghawatirkan dan karena itu harus diwaspadai. Banyak contoh yang menggambarkan buruknya relasi ini. Kalau khutbah, harus ijin ke aparat dan naskah khutbahnya harus diperiksa. Jika khutbahnya sedikit melenceng apalagi menyinggung penguasa, aparat segera menciduknya. Tidak nyamanlah secara psikologis. Partai Islampun dikerdilkan supaya tidak menang. Pertanyaannya adalah apakah umat Islam diam? Tidak. Perlawanan dilakukan meskipun secara sembunyi-sembunyi. Salah satu kekuatan yang melakukan resistensi ialah apa yang disebut dengan En 11 (NII, Negara Islam Indonesia) yang merupakan warisan dari gerakan Mbah Kartosuwiryo Darul Islam (DI). Sebagaimana DInya mbah Karto, gerakan NIIpun membangun organisasi kekuasaan berdasarkan wilayah yang tujuan atau cita-citanya ialah, sesuai dengan nama gerakannya, menegakkan negara Islam di Indonesia. Wilayah Pondok Pucung termasuk salah satu basis garapan NII. Sejumlah pengurus masjid al-Muhajirin ditengarai merupakan aktivis atau simpatisan NII ini.
Pada saat pemerintah bersikap tegas terhadap gerakan NII ini, maka sejumlah pengurus masjidpun menghilang. Masjidpun menjadi sepi, ironis. Warga muslim enggan sholat atau melakukan kegiatan di masjid ini karena hawatir dianggap sebagai bagian dari NII, padahal mereka tidak tahu menahu soal ini. Mereka yang berislam secara tulus ini kemudian merasa terbebani menjadi orang Islam karena bisa menjadi korban kecurigaan. Secara psikologis, menjadi orang islam itu tidak nyaman, tidak tentram. Hemat saya, pencetus cita-cita dan penggerak NII ini telah gagal menjelaskan dan meyakinkan umat bahwa Islam itu menentramkan, menyelamatkan tidak saja orang Islam akan tetapi juga orang-orang lain yang non-muslim sekalipun. Untung saja tidak ada yang murtad.

iy pak saya bru tw sejarah NII dri cerita yg bpk kemukakan dgn cra sembunyi2.jd teringat cerita adik saya ketika diajak ikt aliran NII.mgkn menurt saya n keluarg sy dzaman skrg ni sesat.sy jg g tw.tp dgn ajaran2y menyimpang spr penafsiran alquran multitafsir,membayar sejumlah uang,boleh mencuri,hijrah ktempt yg adik sy belum diketahui.mgkn itu sbagian kecil yg dceritakn adik dari pengalamany.menurt bpk apakah nii zaman waktu thn 8oan sma dgn zaman skarg?gmn mnrt bpk nii skrg yg pnyampaiany msh sembunyi2? mhn penjelasany.trims.
Ide pembentukan Negara islam Indonesia sebenarnya tidak dimulai tahuun 1980an. Jauh sebelum itu sudah muncul juga. Saat perdebatan konstitusi di BPUPKI tahun 1945, sebagian tokoh mengusulkan agar Indonesia yang akan dibentuk harus berdasarkan kepada undang-undang (konstitusi) Islam. Syariah harus diberlakukan. Kelompok atau anggauta BPUPKI yang lain menolak ide Dasar Negara Islam untuk RI. Penghapusan Piagam jakarta tahun 1945 sebetulnya berarti bahwa ide pembentukan negara islam indonesia ditolak secara politik dan hukum. Yang dibangun adalah negara kesatuan RI yang berdasarkan kepada UUD 1945 dan Pancasila,hingga sekarang. Tapi tokoh yang mengusulkan konstitusi Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo tetap tegar, gak neko-neko atau macam-macam. Dia tetap menghormati keputusan politik yang ada, tiadk memberontak, tidak marah dan melakukan aksi yang macam termasuk mendoktrin bahwa orang lain itu kafir dan sebagainya. Dia gak pernah mengusulkan untuk baiat-baiat segala macam.
Tapi memang ada yang marah, mengasingkan diri ke hutan, melakukan perlawanan militer, memerangi siapa saja yang tidak mau mendukung ide negara Islam Indonesia. Selain mereka, salah. Negara atau pemerintah RI adalah negara dan pemerintahan kafir, jangan ditaati. Pokoknya yang paling bener adalah mereka. Dengan menggunakan ayat alquran atau hadits atau apa saja, mereka mengkampanyekan ide ini. Nah itulah yang muncul tahun 1980qan atau yang sekarang ini. Yang sekarang malah, menurut saya, telah diselipi dengan berbagai doktrin. Antara lain “halal harta orang lain ujntuk dicuri” dengan alasan hasil curiannya ini digunakan untuk memperjuangkan Islam.
Hemat saya, mereka tak bisa menjelaskan Islam dengan baik, tak bisa menjelaskan dengan rasional bahwa Islam itu bisa mengayomi orang lain. Mereka gagal menjelaskan Islam bahwa berdakwah itu harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Nabi Muhammad sendiri kan gak pernah begitu-begitu….ya moga-moga saat ini semakin banyaklah orang-orang yang benar-benar faham bagaimana membangun rahmatan lil alamin..maksih ya Biah atas responmu..