……PERKENALKAN…..

•Oktober 18, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

 

Dongeng Peradaban…sesuai namanya (makasih ke Vay ponakan yang usulkan pembuatan Blog ini…) via blog ini saya berkeinginan untuk sharing, tukar menukar atau diskusi dengan siapa saja yang meminati isu-isu peradaban. Isu ini tentu luas bener…dan karena itu saya sendiri tak kan membatasi diri pada isu-isu yang spesifik. Saya membiarkan keinginan, gagasan, uneg-uneg apa saja yang muncul — sepanjang ini menyangkut apa yang menurut saya “peradaban” (civilization atau Hadloroh)– tampilkan di sini. Mungkin saja ada isu atau topik-topik yang sangat serius, akan tetapi mungkin juga topik-topik yang ringan-ringan muncul di sisni. “Dongeng” sengaja juga saya pilih. Namanya juga dongeng, maka tulisan-tulisan di blog ini tak perlu seperti tulisan untuk sebuah seminar apalagi tesis dan disertasi. “Obrolan” ringan-ringanlah meskipun tentu saja kita hindari fitnah, sikap diskriminatif dan hasutan. Melalui obrolan atau dongeng ini bolehlah saya berdoa moga-moga benar-benar bermanfaat…siapa tahu obrolan dan dongeng-dongeng ini bisa menjadi enerji dan inspirasi konstruktif. Terima kasih..selamat menikmati. Jika tidak nikmat, maafkan saya; jika mengganggu atau terganggu maafkan saya…

Bangun Peradaban Yang Kuat

•Oktober 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mas Komar (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat) dalam kapasitasnya sebagai rektor UIN Jakarta suatu saat dalam pidatonya di acara wisuda sarjana UIN yang  ke 77 hari Sabtu 17 Oktober 2009 menguraian soal peradaban. Tema wisuda ini memang soal itu, Islam dan Peradaban. Hemat saya uraian mas Kom ini menarik,  hampir sepenuhnya saya setuju substansinya dan rasanya penting untuk bahan diskusi siapa saja yang tertarik dengan soal-soal beginian. Jaman dulu, sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rasul Allah, di Arab, dan bahkan di berbagai tempat di dunia ini konflik, peperangan sudah lumrah. Ada dua alasan paling tidak mengapa perang ini muncul terus yaitu “suku” (etnis, tribe, Asobiyah bahasa Arabnya) dan “rampasan perang” (ghanimah bahasa Arabnya). Jadi, ada Sukuisme, atau Etnisisme atau Tribalisme (sedikit di bawah nasionalisme) dan Materiisme. Ideologi-ideologi itulah yang menyebabkan perang (berebut atau menundukkan lahan, wilayah secara geografis dan politik). Spirit ini pula yang menyebabkan adanya penjajahan, imperialisme atau kolonialisme. Karena begitu seringnya kisah peperangan, penumpasan, penghancuran, perebutan kekuasaan terjadi untuk sebuah kekuasaan baru, maka muncullah orang-orang yang berkuasa, yang menindas, yang  jago atau memenangkan peperangan dan orang-orang yang dikuasai, di/tertindas, yang  jadi pecundang dan kalah. Jelaslah apa yang diperjuangkan, yang dicari dan ideologi apa yang dianut.

     Ketika Rasul mengembangkan misi kerasulannya dan agama mulai berperan, sejarah manusiapun mulai mengalami perubahan. Orang-orang yang beriman (the believers) atas nama dan karena keagungan Tuhan dan ajaran agama mulai bergerak menyapa, mengajak dan kalau perlu memaksa orang-orang lain untuk beriman. kalau ajakan ini tidak diterima, maka akan diperangi. Jadi, perang lagi. Dengan demikian, perang itu terjadi, disamping karena alasan “Asobiyah” dan “Ghonimah” sebagaimana yang telah saya sebut-sebut di atas, juga karena alasan “Aqidah.” Sejarah manusia kembali dipenuhi oleh kisah-kisah perang  karena alasan dan tujuan-tujuan  Aqidah. Memerangi orang atau bangsa lain atas nama atau bertopeng agama; agama dijadikan alat lejitimasi untuk memerangi, mengalahkan dan menghancurkan orang atau bangsa kain. Sama kejadiannya, ada yang memang ada yang kalah. Yang pasti kehancuran tak bisa dihindarkan dan peradaban luhur tak kan terbangun. Panteslah pernah ada teori “sword religion” meskipun sudah tak laku lagi.

       Islam untungnya memperkenalkan konsep “Rahmatan Lil Alamin.”  Tiga spirit di atas (Asobiyah, Ghanimah dan Aqidah), supaya tidak liar maka dilandasi dengan konsep rahmatan lil alamin. Inilah yang kemudian melahirkan kebudayaan (culture atau Tsaqofah Bahasa Arabnya) dan peradaban (civilization atau Hadloroh Bahasa Arabnya). Jadi, tidak ada lagi pandangan sempit kesukuan, tribalisme atau sukuisme. Yang ada adalah umat yang sangat menghargai  perbedaan bahkan perbedaan agama sekalipun. Tidak ada masalah mengapa saya beragama islam, kamu beragama Kristen, dia Hindu, mereka Yahudi dan lain-lain. Kan ada ayat al-Qur’annya yang mendorong spirit menghargai dan tidak mempertentangkan perbedaan agama; ada kebebasan memilih agama apa saja.”Lakum dinukum waliya din”. Itu ayatnya. Jadi, rukun, damai, tak saling curiga mencurigai, tidak ada yang menelikung atau menghianati perkawanan umat beragama ini. Yang terasa dalam kehidupan yang beraneka baik suku dan agama ini adalah “Rahmat Allah.” Itulah Rahmatan lil Alamin. 

    Nah, Tsaqofah dan  Hadloroh Islamiyah ini universal, tidak diskriminatif untuk siapa saja. Tsaqofah dan Hadloroh ini menjadi kokoh dengan pilar ilmu pengetahuan dan tentu juga iman. Lihatlah era Abbasyiah (the goden age of islam). Tak mungkin sebuah kebudayaan atau peradaban akan berdiri tegak jika ilmu pengetahuan tidak dikembangkan.Syaratnya itu, ilmu pengetahuan.  Karena itu, tak ada pilihan bagi kita “berilmu pengetahuan.” Kata-kata “perang” primitif  yang menghancurkan, harus kita ganti dengan kata-kata ”kompetisi” sehat untuk peradaban. Kata Mas Kom, orang-orang Eropa sudah mengganti perang primitif antar suku untuk banyak alasan dengan “pertandingan sepak bola.” Bangsa lain seperti Jepang, dulu perang primitif dan menghancurkan dengan Sekutu, kini diganti dengan memperbaiki, meningkatkan kualitas pendidikan. Dan Amerika sekarang ini harus menyaksikan pendidikan, produk sains dan teknologi Jepang sebagai “karya dan langkah yang  jempolan” untuk berkompetisi dengan Amerika dan tentu negara-negara maju lainnya. 

     Lalu, gimana dong bangsa-bangsa dan negara-negara muslim? tak ada pilihan, belajarlah dari kesuksesan bangsa-bangsa lain, apalagi dunia muslim juga pernah sukses di bidang ini. Bangkit, bangkit, untuk sebuah peradaban yang kuat…..

Agama dan Modernisasi (2)

•Oktober 15, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Perdebatan tentang dampak modernisasi terhadap eksistensi agama sudah lama terjadi. Memang ada yang bilang modernisasi pada akhirnya akan menggantikan fungsi-fungsi agama. Agama yang pada dasarnya memberikan pilihan cara hidup yang “cespleng” agar manusia bisa hidup dengan tentram, nyaman, tenang, damai, ndak usah pake festival angkara murka dan konflik, ndak usah pake ketegangan plotot-plototan yang menyebabkan “bedil-bedilan” (tembak-tembakan) pertentangan horizontal antar sesama, mulai tergeser dengan kehadiran modernisasi yang dintrodusir oleh pemerintah atau siapapun juga. Modernisasi malah justru dirasakan lebih menjanjikan sebuah kehidupan yang tak terbayangkan sebelumnya; modernisasi menyediakan tidak saja impian-impian, harapan-harapan masa depan akan tetapi alat-alat canggih untuk mempercepat menggapai cita-cita. Jaman dulu, ketika alat transportasi tradisional adalah naik onta, atau yang lebih cepat lagi naik kuda (mungkin juga naik kambing..kalau ada kambing yang bisa dinaiki), atau naik kerbau (kalau mau), perjalanan menuju tujuan tentu lama dan belum tentu nyaman apalagi kalau binatang-binatang itu mau beser, mau buang angin dan air besar dan ngambek kecape’an lagi. Walah…mumet. Pergantian jaman, manusia cerdas mulai melakukan inovasi di berbagai bidang termasuk inovasi teknologi transportasi. Dampaknya luwaas sekali…transformasi sosial ekonomi dan bahkan juga kebudayaan terjadi. Niali-nilai tradisional termasuk sistim kepercayaan yang selama ini diproteksi secara ekstra ketat lewat berbagai media (cerita, seni, lembaga, dan lain-lain) mulai  sedikit demi sedikit terpinggirkan (termarjinalisasi). Kenapa yak? Karena, antara lain kesaktian, kedigdayaan atau keampuhan agama untuk memberikan janji kehidupan yang “gemah ripah loh jinawi, baldatun toyibatun wa robbun gofur atau baladun aminun” tak kunjung terwujud. Kalangan yang skeptikal tentu bilang “mane…katanya agama memberikan bekal atau alat agar kehidupan itu makmur. Tapi mana buktinya? janjinya doang seperti yang tertulis di dalam kitab-kitab suci mau tegakkan keadilan, wujudkan kesejahteraan, hadirkan kebahagiaan, dan baldatun toyyibatun wa robbun gofur tadi. janji doang …jangan percaya dah sama agama.” Agama itu utopis, malah kalangan Marxis bilang agama tu racun..ngracuni kehidupan sehingga kehidupan ini menjadi begitu kabur, tak jelas, ngimpi-ngimpi aja isinya..modernisasi malah lebih jelas dan menjanjikan; modernisasi lebih ampuh.  Tapi tak sedikit juga kalangan yang meyakini bahwa modernisasi gak bakalan menggerus atau meminggirkan agama. Agama justru akan memberikan nilai lebih dan kekuatan atau landasan filosofis yang kokoh terhadap modernisasi.  Modernisasi akan lebih berkualitas dengan agama;  menjadi negara maju secara sosial, ekonomi dan politik, tak perlu meminggirkan agama. Menjadi masarakat dan negara yang maju sains dan teknologinya, justru memperkokoh keberadaan atau eksistensi agama. Modenisasi dan agama saling memperkuat dan masarakat nggak usah puyeng.

       Gitulah perdebatan teoritis atau konseptualnya tentang agama dan modernisasi, harus saling ngapain mereka? Saya sendiri cenderung tidak skeptikal terhadap masa depan keduanya, agama dan modernisasi. Dan masarakat harus kuat bermartabat dengan keduanya. Karena itu, kauman yang saya ceritakan di uraian terdahulu mustinya tetap merupakan komunitas atau masarakat santri yang kuat, tapi sekaligus modern, nggak GaTek. Mungkin Kauman hanyalah satu kasus saja di mana nilai-nilai agama, ajaran dan tradisi agama mulai terabaikan begitu TV, Game, Email,  HP  dan lain-lain bermunculan hampir di setiap sudut kampungku Kauman. Moga-moga saja begitu. Tapi, saya sendiri ndak terlampau yakin. Kuat kecenderungan manusia atau anak-anak bangsa modern kita ini yang menjadi obsesif atau malah suka berkhayal yang enggak-enggak gara-gara game, gara-gara dunia maya, gara-gara hiburan yang hedonis. Qur’an mulai jarang disentuh (apalagi dibaca), doa-doa nggak banyak yang tahu, bacaan sholat pas-paspasan, atau jangan-jangan ndak tertarik untuk sholat, puasa ramadhan juga seadanya sehingga nggak dapat apa-apa dari kehadiran bulan suci ramadhan kecuali lapar dahaga lelah fisik lelah batin. Mereka kering..kering; mereka tunduk setunduk tunduknya terhadap irama hidup rutin bagai mesin teknologi tanpa ruh. Mereka memang manusia modern dalam pengertian logika modernitas dikuasai. Tapi ya..tadi ..mereka  tetap belum punya ruh..sayang sekali.

      Terlambatkah kita? Tidaklah…peluang masih terbuka lebar..lebar sekali untuk tidak sekedar memperbaiki filsafat kehidupan yang rusak-rusak,akan tetapi sekaligus memberikan alternatif atau paradigma baru bagi kehidupan ini. Dengan cara ini kehadiran agama benar-benar terasa meskipun masarakat telah menjadi sangat advenced dalam soal sains dan teknologi dan sudah sudah sangat modern. Mari kita coba….wallahu a’lam

Agama dan Modernisasi (1)

•September 26, 2009 • & Komentar

Salam.

Beberapa puluh tahun yang silam,saat masih SD, kampung kelahiran saya (Kauman Banjarnegara) nampak jelas merupakan kampungnya Kaum Santri. Tanda-tandanya banyak antara lain: ketaatan warga untuk melaksanakan syariat. Yang sangat menonjol tentunya adalah sholat jamaah di Masjid; pake sarung,pake kopiah bagi kaum laki-laki. Sehabis Maghrib,hampir di setiap rumah terdengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an. Tak ada satu wargapun yang keluyuran keluar rumah untuk tujuan yang  tidak jelas, apalagi nongkrong-nongkrong menghabiskan waktu. Malam hari adalah untuk mengaji al-Qur’an, mendengarkan petuah-petuah dari orang-orang tua (terutama mbah putri), belajar untuk keperluan sekolah dan diajari lagu-lagu spiritual keagamaan. Ada satu lagu yang syairnya sbb:

“eling-eling siro manungso, temenono anggonmu ngaji, mumpung durung katekanan, malaikat juru pati.”

Artinya: Ingat-ingatlah kamu semua wahai manusia, seriuslah mempelajari al-Qur’an, mumpung Malaikat pencabut nyawa belum datang.

Masih banyak lagu yang saya pelajari dan nyanyikan dengan senang. Tema-temanyapun beragama. Yang pasti, penanaman kesadaran atau komitmen untuk melaksanakan ajaran agama cukuplah kental. Dan ini sangat mewarnai kehidupan sehari-hari. Bahkan relijiusitas (keberagamaan) warga kampung kauman ini juga nampak dalam berbagai festival atau upacara-upacara keagamaan dan tentu juga dalam hubngan-hubungan sosial antara anggauta keluarga dan juga warga. Bulan ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dan mengesankan. Selain sahur, berpuasa dan berbuka, bulan ramadhan diisi dengan  berbagai acara keagamaan. Suasana relijius benar-benar terasa.     Seperti diuraikan oleh Clifford Geertz dalam karya klasiknya, ciri penting Kaum Santri memang adalah ketaatan mereka terhadap ajaran agama.

    Hingga pertengahan pertama tahun 1970an suasana relijius ini masih terasa. Tapi setelah itu, modernisasi mulai menggeser nilai-nilai agama ini  dan secara perlahan tapi pasti mulai tergantikan dengan sikap hidup yang sangat pragmatis dan sekular.Arus pragmatisme dan sekularisme ini antara lain lewat TV. Tak sedikit tayangan TV yang mempertontonkan pola hidup yang sangat pragmatis dan bahkan kemudian hedonis yang meyakini bahwa hidup yang sesungguhnya adalah di dunia; menjalankan/memperjunagkan kehidupan itu  adalah untuk sebuah kenikmatan duniawi an sich;  karena itu, juga hedonis dan tak meyakini agama adalah penting bagi kehidupan.  Kauman mengalami perubahan kalau tidak bisa disebut sebagai krisis nilai. Landasan penting bagi bangunan kebudayaan atau peradaban umat melemah. Generasi anak-anak sy tak bisa lagi menikmati suasana reljius yang indah di kauman sebagaimana yang aku saksikan masa kecil di kauman. Tentu saja ini efek negatif dari modernisasi yang juga terjadi di banyak tempat. Pertanyaannya adalah apakah modernisasi selalu berdampak negatif dan meminggirkan agama? Tentu tidak.

Hello world!

•September 26, 2009 • & Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!