Mas Komar (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat) dalam kapasitasnya sebagai rektor UIN Jakarta suatu saat dalam pidatonya di acara wisuda sarjana UIN yang ke 77 hari Sabtu 17 Oktober 2009 menguraian soal peradaban. Tema wisuda ini memang soal itu, Islam dan Peradaban. Hemat saya uraian mas Kom ini menarik, hampir sepenuhnya saya setuju substansinya dan rasanya penting untuk bahan diskusi siapa saja yang tertarik dengan soal-soal beginian. Jaman dulu, sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rasul Allah, di Arab, dan bahkan di berbagai tempat di dunia ini konflik, peperangan sudah lumrah. Ada dua alasan paling tidak mengapa perang ini muncul terus yaitu “suku” (etnis, tribe, Asobiyah bahasa Arabnya) dan “rampasan perang” (ghanimah bahasa Arabnya). Jadi, ada Sukuisme, atau Etnisisme atau Tribalisme (sedikit di bawah nasionalisme) dan Materiisme. Ideologi-ideologi itulah yang menyebabkan perang (berebut atau menundukkan lahan, wilayah secara geografis dan politik). Spirit ini pula yang menyebabkan adanya penjajahan, imperialisme atau kolonialisme. Karena begitu seringnya kisah peperangan, penumpasan, penghancuran, perebutan kekuasaan terjadi untuk sebuah kekuasaan baru, maka muncullah orang-orang yang berkuasa, yang menindas, yang jago atau memenangkan peperangan dan orang-orang yang dikuasai, di/tertindas, yang jadi pecundang dan kalah. Jelaslah apa yang diperjuangkan, yang dicari dan ideologi apa yang dianut.
Ketika Rasul mengembangkan misi kerasulannya dan agama mulai berperan, sejarah manusiapun mulai mengalami perubahan. Orang-orang yang beriman (the believers) atas nama dan karena keagungan Tuhan dan ajaran agama mulai bergerak menyapa, mengajak dan kalau perlu memaksa orang-orang lain untuk beriman. kalau ajakan ini tidak diterima, maka akan diperangi. Jadi, perang lagi. Dengan demikian, perang itu terjadi, disamping karena alasan “Asobiyah” dan “Ghonimah” sebagaimana yang telah saya sebut-sebut di atas, juga karena alasan “Aqidah.” Sejarah manusia kembali dipenuhi oleh kisah-kisah perang karena alasan dan tujuan-tujuan Aqidah. Memerangi orang atau bangsa lain atas nama atau bertopeng agama; agama dijadikan alat lejitimasi untuk memerangi, mengalahkan dan menghancurkan orang atau bangsa kain. Sama kejadiannya, ada yang memang ada yang kalah. Yang pasti kehancuran tak bisa dihindarkan dan peradaban luhur tak kan terbangun. Panteslah pernah ada teori “sword religion” meskipun sudah tak laku lagi.
Islam untungnya memperkenalkan konsep “Rahmatan Lil Alamin.” Tiga spirit di atas (Asobiyah, Ghanimah dan Aqidah), supaya tidak liar maka dilandasi dengan konsep rahmatan lil alamin. Inilah yang kemudian melahirkan kebudayaan (culture atau Tsaqofah Bahasa Arabnya) dan peradaban (civilization atau Hadloroh Bahasa Arabnya). Jadi, tidak ada lagi pandangan sempit kesukuan, tribalisme atau sukuisme. Yang ada adalah umat yang sangat menghargai perbedaan bahkan perbedaan agama sekalipun. Tidak ada masalah mengapa saya beragama islam, kamu beragama Kristen, dia Hindu, mereka Yahudi dan lain-lain. Kan ada ayat al-Qur’annya yang mendorong spirit menghargai dan tidak mempertentangkan perbedaan agama; ada kebebasan memilih agama apa saja.”Lakum dinukum waliya din”. Itu ayatnya. Jadi, rukun, damai, tak saling curiga mencurigai, tidak ada yang menelikung atau menghianati perkawanan umat beragama ini. Yang terasa dalam kehidupan yang beraneka baik suku dan agama ini adalah “Rahmat Allah.” Itulah Rahmatan lil Alamin.
Nah, Tsaqofah dan Hadloroh Islamiyah ini universal, tidak diskriminatif untuk siapa saja. Tsaqofah dan Hadloroh ini menjadi kokoh dengan pilar ilmu pengetahuan dan tentu juga iman. Lihatlah era Abbasyiah (the goden age of islam). Tak mungkin sebuah kebudayaan atau peradaban akan berdiri tegak jika ilmu pengetahuan tidak dikembangkan.Syaratnya itu, ilmu pengetahuan. Karena itu, tak ada pilihan bagi kita “berilmu pengetahuan.” Kata-kata “perang” primitif yang menghancurkan, harus kita ganti dengan kata-kata ”kompetisi” sehat untuk peradaban. Kata Mas Kom, orang-orang Eropa sudah mengganti perang primitif antar suku untuk banyak alasan dengan “pertandingan sepak bola.” Bangsa lain seperti Jepang, dulu perang primitif dan menghancurkan dengan Sekutu, kini diganti dengan memperbaiki, meningkatkan kualitas pendidikan. Dan Amerika sekarang ini harus menyaksikan pendidikan, produk sains dan teknologi Jepang sebagai “karya dan langkah yang jempolan” untuk berkompetisi dengan Amerika dan tentu negara-negara maju lainnya.
Lalu, gimana dong bangsa-bangsa dan negara-negara muslim? tak ada pilihan, belajarlah dari kesuksesan bangsa-bangsa lain, apalagi dunia muslim juga pernah sukses di bidang ini. Bangkit, bangkit, untuk sebuah peradaban yang kuat…..